Menyikapi Mitos Selama Kehamilan


Pengasuh:Ustadzah Latifah Munawarah, MA.
Kandidak Doktor, Kuliah Syariah, Universitas Kuwait
Rubrik ini terbuka bagi siapapun yang ingin bertanya seputar Islam. Kirimkan pertanyaan anda ke Redaksi melalui SMS ke no +96567786853, atau email ke : alhusnakuwait@gmail.com, Mohon sertakan nama dan alamat anda

Pengasuh : Ustadzah Latifah Munawaroh,  MA..
Lulusan S2 jurusan Syariah Kuwait University
saat ini sedang mengikuti program S3 di Kuwait University.

 
Rubrik ini terbuka bagi siapapun yang ingin bertanya seputar Islam. Layangkan pertanyaan anda ke Redaksi email ke :  alhusnakuwait@gmail.com . Mohon sertakan nama dan alamat anda

 

Menyikapi Mitos Selama Kehamilan

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Begini ustadzah, saya seorang ibu yang sedang hamil. Saya kadang bingung, orang tua sering bilang jangan suka ngantongi sesuatu di saku kalau pas lagi hamil karena nanti berakibat tidak baik untuk janin, ke mana-mana harus membawa silet supaya tidak ada yang ganggu, dan masih banyak lagi. Saya sebenarnya tidak percaya dan takut syirik, tapi di satu sisi saya masih takut juga untuk melanggar karena khwatir juga dengan si jabang bayi, jadi mohon nasehatnya, apa yang sebaiknya saya lakukan. Terimakasih. Wassalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Hamba Allah

Jawaban:  (answer)

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Alhamdulillah, was sholatu was salamu ala Rasulillah, waba'du.

Selamat atas kehamilannya, semoga Allah berkenan memberikan kesehatan selalu buat ibu dan bayi, kemudahan hingga persalinan nanti, serta diberi kekuatan dalam mendidiknya menjadi generasi Rabbani penerus risalah dan dakwah Islam.

Kehamilan adalah sebuah anugerah Allah. Anugerah yang seharusnya disyukuri, tidak malah melakukan atau mempercayai mitos-mitos yang tidak sesuai dengan Islam.

Banyak sekali muncul di sekitar kita mitos-mitos tertentu seputar kehamilan khususnya dan pada kehidupan harian pada umumnya, yang sebenarnya tidak berdasar sama sekali, juga baik sisi medis ataupun Islam, salah satunya seperti yang ditulis oleh penanya di atas.

Rasulullah bersabda: “Tidak ada ‘adwa (keyakinan adanya penularan penyakit), tidak ada thiyarah. Dan yang menakjubkanku adalah al-fa’lu yang baik yaitu kalimat yang baik.” (HR. Al-Bukhari Muslim)

Mitos-mitos di seputar kita adalah termasuk thiyarah, dimana thiyarah ini termasuk adat Jahiliyyah yang  digunakan untuk menolak dakwah para Rasul. Para musuh Rasul selalu menjadikan alasan bahwa merekalah, para Rasul itu sebab semua musibah dan bala' yang datang. Kaum Sholih –alaihis salam-, seperti yang diceritakan dalam Al Qur'an, mereka berkata: "Kami mendapatkan nasib yang malang, disebabkan kamu dan orang-orang yang besertamu". Tetapi dijawab oleh Nabi Sholih: "Nasibmu ada pada sisi Allah…". (QS. An Naml: 47), begitu juga Fir'aun dan kaumnya merasa sial dengan kedatangan nabi Musa, seperti yang diberitakan dalam Al A'raf: 131.

Ketika Islam datang, Islam menghapuskan semua khurafat atau takhayyul yang ada waktu itu. Thiyarah di ambil dari kata "طير"/thoir, yaitu burung, dimana pada masa jahiliyah mereka menerbangkan burung jika ingin bepergian, jika burung tersebut terbang ke kanan maka mereka akan meneruskan perjalanan, jika terbang ke kiri maka mereka membatalkannya.

Thiyarah berarti merasa bernasib sial karena sesuatu. Thiyarah tidak terbatas pada burung saja, ia bisa berupa angka, hari-hari, ataupun bulan tertentu, dapat juga percaya pada suara binatang tertentu, ataupun orang-orang tertentu, dsb. Dalam mitos di atas, seorang ibu hamil, konon harus membawa di sakunya silet supaya tidak ada yang ganggu, di sini berarti ada keyakinan bahwa silet di sini merupakan sebab penggangu, ini lah yang tidak dibolehkan, karena adanya keyakinan kepada selain Allah. Keyakinan bahwa hal-hal tersebut membawa untung ataupun sial.  Inilah yang tidak dibolehkan, karena keyakinan ini menafikan keyakinan kepada taqdir Allah Azza wajalla yang merupakan salah satu dari rukun Iman. Bahkan boleh jadi, thiyarah ini akan dapat membawa pelakunya kepada syirik. Rasulullah bersabda: “Thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik dan setiap orang pasti (pernah terlintas dalam hatinya sesuatu dari hal ini). Hanya saja Allah menghilangkannya dengan tawakkal kepada-Nya.”(HR.Abu Dawud dan Tirmidzi). Beliau juga menerangkan bahwa berlaku thiyarah ini bukan termasuk akhlaq islam, "Tidak lah bagian dari kita orang yang bertathayyur ataupun ditathayyurkan –dijadikan sumber thiyarah-". (HR. Al Bazzar dan Thabrani).

"Barangsiapa mengurungkan niatnya karena thiyarah, maka ia telah berbuat syirik.” Para Sahabat bertanya: “Lalu apakah tebusannya?” Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: “Hendaklah ia mengucapkan: ‘Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan dari Engkau, tiadalah burung itu (yang dijadikan objek tathayyur) melainkan makhluk-Mu dan tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau". (HR. Ahmad)

Hadits-hadits di atas melarang secara jelas tentang Thiyarah. Bahwa ia adalah kesyirikan. Tetapi kesyiirikan di sini tingkatan berbeda-beda, antara syirik yang ashghar dan syirik yang akbar ataupun besar. Jika ternyata dengan seseorang itu meyakini dengan thiyarah bahwa sesuatu itulah yang berbuat dengan sendiri, misalnya dalam konteks di atas, membawa silet bagi ibu hamil, perbuatan itu akan dapat menjauhkan dari gangguan dengan sendirinya, ini sudah termasuk syirik besar, jika percaya bahwa dia adalah sebab tetapi tetap yakin bahwa musibah datangnya dari Allah, ini termasuk syirik kecil.

Mengapa Thiyarah diharamkan?. Tentu terdapat sebab-sebab berkenaan dengan ini, diantaranya yaitu:

1.     Bahwa terdapat hadits-hadits yang melarang serta menerangkan bahwa thiyarah ini terkandung sikap bergantung kepada selain Allah, menafikan sikap Tawakkal kepada Allah.

2.     Orang yang bertathayyur akan sering merasa takut dalam hidupnya, seperti ungkapan Ibnul Qayyim: “Orang yang bertathayyur itu tersiksa jiwanya, sempit dadanya, tidak pernah tenang, buruk akhlaknya, dan mudah terpengaruh oleh apa yang dilihat dan didengarnya. Mereka menjadi orang yang paling penakut, paling sempit hidupnya dan paling gelisah jiwanya. Banyak memelihara dan menjaga hal-hal yang tidak memberi manfaat dan mudharat kepadanya, tidak sedikit dari mereka yang kehilangan peluang dan kesempatan untuk berbuat kebajikan.”

Bagaimana untuk menjauhinya? Tawakkal kepada Allah, serta percaya penuh terhadap taqdir Allah merupakan cara ampuh dan solusi menghindari thiyarah. Disamping mengerjakan sholat Istikhoroh sebelum melakukan sesuatu, dan senantiasa memohon perlindungan Allah jika muncul sifat thiyarah dalam diri kita, jika ini muncul, Rasulpun mengajari kita dengan doa seperti dalam hadits riwayat Ahmad yang telah disebutkan di atas.

At Tafa'ul/optimis

Kebalikan dari adat yang tercela di atas yaitu Tafa'ul. "… Dan yang menakjubkanku adalah al-fa’lu yang baik yaitu kalimat yang baik" (HR. Bukhori Muslim).

Jika tathayyur/thiyarah adalah hal yang dilarang, maka tafa'ul adalah hal yang disukai dan dianjurkan. Karena sesungguhnya thiyarah adalah merupakan ekspresi buruk sangka kepada Allah, sementara tafa'ul adalah berhusnudzon kepada Allah tentunya dengan bertawakkal pada Allah. Jika thiyarah membawa rasa ketakutan kekhawatiran, maka tafa'ul sebaliknya. Tafaul membangkitkan dalam jiwa suatu harapan kepada Allah, sehingga kuat tekadnya hingga berhasil tujuannya. Tafa'ul akan selalu membawanya untuk senantiasa memohon pertolongan Allah, dan tawakkal kepadaNya.

Semoga Allah selalu memberikan hidayahNya kepada kita, , beriman sepenuhnya bahwa Allah lah pengatur dan penentu segalanya. Wallahu a'lam bis shawab.

Wassalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh

2 comments:

Fakta Menarik mengatakan...

10 Paradoks Yang Sangat Terkenal Sepanjang Sejarah
Fakta
10 Foto Bersejarah Sepanjang Masa

Tenun Ikat Indonesia mengatakan...

nice post, mampir di warung kita juga ya sablon gelas plastik di ciputat

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com