REUNI


 

Melepas kangen pada acara reuni Akbar almamaterku semasa kuliah dulu sungguh akan menjadi Melepas kangen pada acara reuni Akbar almamaterku semasa kuliah dulu sungguh akan menjadi suatu moment yang sangat menyenangkan, pikirku. Betapa tidak, dari foto-foto yang selalu mereka posting melalui dunia maya membuatku tak sabar ingin bertemu dan mengucapkan selamat kepada mereka semua, Retno, Indri, Vira, Anna…ya semua sahabat-sahabat semasa kuliahku dulu sekarang terlihat lebih anggun dan cantik dengan busana-busana muslimah yang mereka kenakan dan selalu sesuai dengan hijabnya. Ada rasa kagum, ternyata dengan berjalannya waktu dan semakin beranjaknya usia pengertian akan suatu penampilan sopan yang sesuai syar’i akhirnya bisa kami jalankan, tak sabar juga rasanya ingin mendengar kisah-kisah perjalanan masing-masing sahabatku ini menuju kearah perbaikan diri.

Ingatanku kembali ke lorong gelap masa lalu kehidupanku, kehidupan kami semasa kuliah dulu. Aku dan teman-teman begitu bangga saat mengenakan baju, tas maupun sepatu model terbaru. Begitu bangga memperlihatkan rambut yang terjuntai indah. Semua berlanjut sampai kami bekerja di ibukota, kami berlima terus bersahabat, pergi ke salon pada setiap akhir pekan untuk merawat wajah dan rambut, makan di restoran terkenal dan berlibur ke tempat-tempat wisata ternama. Kehidupan kami begitu konsumtif, penghasilan perbulan rasanya hanya cukup untuk merawat diri dan memenuhi kebutuhan diri sendiri. Kami merasa berhak membelanjakan penghasilan kami sesuka hati, tak ada yang melarang karena jauh dari kedua orangtua masing-masing, dan sepertinya kehidupan di metropolitan menuntut kami seperti itu.
Enam tahun bukanlah waktu yang singkat untuk kebersamaan kami, hidup berfoya-foya tanpa tahu makna dan tujuannya, usia yang semakin beranjak pelan-pelan membuat kami khawatir akan kesendirian, hingga pada suatu hari satu persatu teman-teman memisahkan diri, Retno harus ke Lampung mengikuti suami yang mendapat tugas disana, Indri dan Vira ternyata ingin melanjutkan kuliah, tinggal aku dan Anna yang tetap tinggal di ibukota melanjutkan kehidupan dengan segala kesibukan yang ada.
Perjalanan hidup kami berdua ternyata banyak mengalami perubahan setelah kepergian tiga orang sahabat kami. Aku dan Anna terus mencari jati diri apa sebenarnya yang kami inginkan dalam kehidupan ini. Kelelahan dan kejenuhan sepertinya sudah sampai pada puncaknya, sedang kami masih terus sibuk secara duniawi. Sampai pada suatu hari aku berkunjung ke rumah Anna, ternyata kehidupannya sangatlah sederhana, bahwa dialah sebenarnya satu-satunya pencari nafkah untuk keluarga, dua orang adik yang masih sekolah harus dibiayai dari penghasilannya. Inilah yang menyadarkan aku tentang berbagi, hal inilah yang mencambuk Anna untuk merubah gaya hidup kami yang konsumtif.

“Kepergian ayah membuat mataku terbuka Ran..bahwa mereka masih sangat membutuhkan kehadiranku, sebagai mbak yang bertanggungjawab” demikian ungkapnya suatu hari. “Aku mengerti An..memang sudah waktunya kita berbenah.”jawabku berusaha menekan rasa sesal. Rumah kecil di sudut ibukota yang hanya mempunyai satu kamar saja terasa melengkapi kesederhanaan, namun yang membuatku kagum, kehidupan kakak beradik ini begitu sangat akrab, saling cinta, tak pernah terdengar perselisihan, sosok Anna yang lembut mengayomi adik-adiknya sehingga mereka semua terbiasa berkata dengan lembut pula. Inilah hidup yang sebenarnya kucari, berbeda dengan kehidupan di rumahku yang penuh kemewahan namun tak satupun anggota keluarga yang menikmatinya, semua karena sibuk  kerja dan kerja. Aku jadi begitu sangat rutin mendatangi rumah sederhana yang di dalamnya ada ketenangan ini. Sampai pada suatu hari, “Ran…hmmm..” hati-hati Anna memanggilku. “Ibu menginginkan agar aku segera menikah.”’ lanjutnya pelan. “Apa??..menikah..? dengan siapa An?” jawabku terbengong, karena memang selama ini tak pernah kudengar Anna mempunyai pasangan, “Dia seorang guru ngaji, anak teman ibu..” Anna berusaha menjelaskan. “Tapi kan kamu nggak mengenal dia sama sekali An.., bagaimana mungkin bisa hidup dalam satu atap kalo nggak kenalan sebelumnya..” aku protes, karena memang menurutku penjajakan untuk membina hubungan dalam ikatan resmi harus dilakukan, hal ini pula yang selalu aku jalani dan gagal, penjajakan. “Aku percaya, ibu tidak salah memilihkan jodoh untuk anaknya Ran..siapapun dia InsyaAllah aku siap menerima..”  Aku hanya menggelengkan kepala dan sangat tidak mengerti pada pola pikirnya saat itu, berumah tangga? Tanpa saling kenal lebih dulu? Siapa dia, bagaimana tingkah dan kesehariannya..uffhh..tak bisa kubayangkan, gumamku dalam hati. “Sepasang teman yang sudah bertahun-tahun membina hubungan saja masih ada kejadian ketidakcocokan yang menyebabkan perpisahan An…” aku berusaha membuka pikirannya, “InsyaAllah..dengan Bismillah aku akan memulai…dan aku beri kesempatan untuk kamu mengobservasinya.. kamu boleh mengomentarinya kalau terjadi apa-apa Ran..” jawabnya bijak disertai senyuman. Kekhawatiranku sebagai sahabat menurutku tidaklah berlebihan, karena memang selama ini Anna benar-benar tak pernah menjalani proses pacaran.

Anna memang sudah berubah banyak, perubahan yang terjadi karena kepergian sang ayah, kemudian menjadi tulang punggung keluarga hingga akhirnya menjadi anak yang patuh pada perintah sang ibunda.
Perubahan besar pada Anna pun terlihat setelah pernikahannya, Penampilannya berganti dengan busana muslimah, dengan kerudung lebar menutupi tubuhnya, kajian-kajian keagamaan begitu intensif dihadirinya, dengan tak lupa mengajakku sahabatnya yang masih sendiri, pelan-pelan rupanya dia ingin membimbing aku tanpa memaksa, tapi harus melihat dan menyaksikan secara langsung, keindahan dan kedamaian dalam sebuah perkumpulan keagamaan. 

"Hush…melamun apa..” Anna menepuk pundakku membuyarkan lamunanku tentang masa lalu, “Ini..kamu sudah tahukan..ada undangan reuni dari almamater kita” sambil kutunjukkan layar laptop ku kehadapannya,  “Oohh..reuni Akbar itu..iya aku sudah tahu..yuk kita ngobrol sambil makan siang di kantin..”, ajaknya, aku dan Anna sekarang bekerja pada satu instansi yang sama, di rumah sakit pemerintah, menjadi pegawai negeri yang menurut kami akan aman untuk masa depan kehidupan nanti, setelah lelah bekerja di berbagai rumah sakit swasta di ibukota, menjadi konsumtif karena pergaulan di sekitar lingkungan yang mendukung ke arah sana. 

Hari yang ditunggu-tunggupun tiba, reuni akbar almamater kami, kulihat Retno hadir dengan suami dan seorang anaknya, ada Vira, Indri, Fatin, Arni..semua terlihat datang dengan pasangannya, kami saling berjabat tangan dan berpelukan melepas rasa kangen yang tak terkira, setelah hampir delapan tahun terpisah. “Ran….aduh…kangennya..apa khabar???…” peluk erat dari Retno, Vira dan Indri sahabat-sahabatku, sempat menitikkan airmata karena luapan rindu akan kebersamaan kami dulu. Tak lupa Retno, Vira dan Indri memperkenalkan suami atau pasangan mereka kepadaku dengan memberikan uluran tangan yang kujawab dengan anggukan dan senyuman saja, ya aku menjadi risih sekarang untuk berjabat tangan dengan lawan jenisku. “Aku baik-baik..sama seperti yang kalian lihatkan?? Gimana.. Udah pada punya momongan berapa nih..??” tanyaku menatap mereka satu persatu, akhirnya kami terlibat obrolan panjang lebar tentang anak dan keluarga, sampai tiba-tiba Vira menanyakan satu hal tentang kesendirianku, “ Ayoo.. Kapan giliran kamu Ran…menikah..piala bergilir dari almamater jangan-jangan akan berlabuh paling akhir di rumahmu nanti..jangan telat loh..rugi..” mereka cekikikan seolah tak perduli perasaan galauku, kami satu almamater memang mempunyai satu piala bergilir yang akan didapat bila teman akan menikah, dengan piala itu nanti teman-teman menjadi tahu siapa yang sudah menikah karena akan tertulis nama-namanya pada sisi piala, belum sempat ku jawab, Anna sudah menyelamatkanku dengan sejuk kata-katanya..” Tenang teman-teman,..meski terakhir..InsyaAllah calon Rani nanti seorang yang bisa membimbingnya ke syurga,…tenang.. masih dalam proses..” aku terbelalak mendengar Anna bicara begitu mantap, seolah orang yang dia maksudkan itu sudah ada, padahal saat ini sungguh tak satupun lelaki yang sedang dekat denganku.
Anna…Anna sahabatku yang satu ini memang selalu bisa menghiburku.
Lalu tiba pada  acara foto bersama, ada kejanggalan yang kulihat dari teman-temanku yang notabene berbusana muslim ini, mereka tidak merasa risih untuk berdiri bersentuhan berfoto bersama dengan teman-teman pria, juga dalam hal berjabat tangan melepas kangen, begitu ringannya tangan laki-laki lain disambut untuk bersalaman, ah..andai saja aku belum belajar secara mendalam tentang agama, mungkin pergaulankupun masih sebebas ini, tertawa bersama teman pria, merangkul pundak dan bersentuhan untuk berfoto bersama, aku yang melihatnya menjadi risih, sedang kulihat Anna sudah duduk dengan aman menikmati jamuan. Terima kasih Anna, karena kamu dan suamimu aku menjadi beda, merasa risih untuk melakukan hal-hal itu semua, “Astaghfirullahaladziim…“  ucapku dalam hati, kerudung warna warni yang mereka kenakan ternyata belum juga sanggup membendung keinginan untuk sedikit berlaku wajar terutama pada lawan jenis, tidak bisa menjadi jaminan.

Kemudian terdengar lagi teriakan Vira, “Ayo..Ran..sini foto bareng.. masa lupa sih…sama mantan….” upps…merah mukaku, kutunjukkan wajahku yang cemberut ke arah mereka, “Ayoo..sini..ni..foto dekat Ari..” Retno ngotot menarik tanganku, mereka terlihat puas sudah bisa memasangkan aku untuk berfoto bareng mantan teman dekatku dulu, aku yang salah tingkah berusaha menyibukkan diri dengan telepon genggamku, mencari nomor Anna, meneleponnya untuk memberitahu agar segera keluar dari suasana ini.


Akhirnya tanpa menunggu acara reuni itu selesai aku sudah lebih dulu mengakhiri pertemuan dan pamitan dengan teman-teman lamaku, dengan alasan perjalanan kami ke ibukota sangat jauh, sedangkan besok sudah mulai beraktivitas lagi. Dalam perjalanan pulang ke rumah aku tak berhenti cerita pada Anna, tentang ulah teman-teman yang menurutku tidak wajar. Anna hanya tersenyum dan berkata, “Sabar..namanya juga mereka kangen..” sedangkan suaminya yang mengantar jemput kami sambil duduk di belakang  kemudi berkata ringan,..”Inti dari semuanya adalah selalu berniat kuat untuk  berada dijalanNya..’’.  "Iya istiqomah kan abi.." jelas Anna. Kualihkan pandanganku keluar kaca jendela mobil, jalanan lengang itu sudah begitu panjang kami lalui, dan ternyata, dari hasil observasiku yang telah diijinkan Anna sebelum pernikahannya adalah, bahwa lelaki inilah yang merubah kehidupan Anna,  menjadi tampil beda seperti sekarang, lelaki yang dulu kubilang belum tentu cocok dengannya, lelaki pilihan orangtua, yang sama sekali tidak dikenalnya. Pernikahan yang dia jalani dengan keikhlasan dan karena mencari ridho Allah semata. Aku terdiam, membenarkan keadaan, dan menghapus semua pikiranku yang keliru tentang penjajakan sebelum pernikahan. 
Kemudian Anna berkata pada suaminya sambil melirik kearahku,.”Tuh Abi..makanya carikan dong teman Abi, yang bisa membimbing sahabatku ini, biar nggak dikeroyok lagi sama teman-teman untuk menanyakan statusnya..”, kucubit lengan Anna ..”A duh….benar kan yang kubilang Ran?, apa aku salah ingin sahabatku juga bahagia, sama seperti aku..”, kami tersenyum berpelukan, dan tak disangka suami Anna menjawab, “InsyaAllah..., Abi sudah carikan, tinggal menunggu kesepakatan..”

Aku dan Anna berpandangan, Ya Allah jika jalan menuju kearah itu makin mendekatkan aku pada_Mu maka aku memohon mudahkanlah urusanku, begitu doaku didalam hati sambil terus berharap akan menjadi kenyataan karena bercermin dari kehidupan tenang dan damai yang sudah dijalani sahabatku Anna. Aku berjanji akan berusaha meningkatkan diri untuk menjadi lebih baik lagi, lebih sholehah lagi, memupuk kekuatan ruhani untuk mencapai tingkat tertinggi, naik dan terus naik, mengusahakannya bersama seorang teman hidup yang telah ditakdirkan oleh-Nya untuk mendampingi kehidupanku nanti. (Annira)

0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com