Saat Pintu Sudah Terbuka



Semua adalah pilihan. Saat pintu sudah terbuka, ke mana langkah kita arahkan. Akankah kita masuk atau justru menutupnya agar segala keindahan yang ada di dalamnya terhalang dari pandangan kita. Sebagaimana Abu Jahal yang telah menutup pintu hatinya dari kebenaran meskipun dia tahu bahwa apa yang telah ditawarkan Allah melalui sang utusan adalah benar adanya dan surga balasannya. Tapi kesombongan dan kebesaran nama serta kedudukan di antara kaumnya telah membuat dia terlena. Sehingga Allah telah melaknatnya dan mati dalam keadaan hina.
 




Semua adalah pilihan. Saat pintu sudah terbuka, ke mana langkah kita arahkan.  Akankah kita hanya melangkah untuk menyingkirkan aral yang melintang agar orang-orang yang kita kasihi tidak terluka saat melewatinya dan kemudian meninggalkan tanpa pernah masuk ke dalamnya. Sebagaimana Abu Thalib yang dengan kasih sayangnya telah membantu Rasulullah menghadapi ancaman dan siksaan kaumnya dan di akhir hayatnya dia menutup pintu hatinya dari kalimat yang ditawarkan oleh utusan Allah yang telah dibela dan dilindungi selama hidupnya.

Semua adalah pilihan. Saat pintu sudah terbuka, ke mana langkah kita arahkan. Akankan kita masuk dan menelurusi lorong yang panjang, di tengah perjalanan kita ragu apakah lorong yang kita tempuh akan berujung dan berakhir di istana megah yang telah dijanjikan, hingga langkah pun berbalik arah. Sebagaimana Ubaidillah bin Jahsy, keputusan untuk melangkah menyusuri lorong hidayah hingga ikut berhijrah ke Habasyah akhirnya terhenti karena keraguan akan kemenangan kaum muslimin, membuat keyakinannya memudar dan imannya melemah dan langkah kakinya berbalik arah. Meninggalkan Islam yang telah diperjuangkan, menjadi manusia murtad yang akhirnya Allah hinakan. 

Semua adalah pilihan. Saat pintu sudah terbuka, ke mana langkah kita arahkan. Akankah kita maju dengan satu keyakinan bahwa di ujung lorong yang penuh liku, di sana istana cahaya telah berdiri menjulang menanti kita datang, sehingga aral yang melintang, dunia yang ditawarkan tidak pernah membuat kaki-kaki kita berbalik arah, kembali mencari gemerlapnya cahaya semu yang hanya mampu menyilaukan mata.  Sebagaimana langkah kaki Ka'ab bin Malik saat terisolasi di antara kaum muslimin sebagai bentuk teguran atas kelalaiannya dalam perang Tabuk. Berbagai utusan negeri kafir datang dengan sejuta impian kemewahan yang ditawarkan. Tapi keyakinan yang kuat atas surgaNya, membuat dia teguh dalam keimanannya hingga Allah pun memaafkannya.

Ya, semua adalah pilihan. Saat pintu sudah terbuka, ke mana langkah kita arahkan. Karena pintu hanyalah awal dari langkah kita, masih panjang lorong-lorong yang akan menguji kita dengan segala aralnya, akankah kita menjadi hamba yang tangguh hingga kita mencapai tujuan atau menjadi hamba lemah yang akan berhenti di tengah atau bahkan berubah arah lalu menutupnya tanpa ada yang bisa membukanya. (Ummu Yahya
)

0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com