AYAH PENGHUBUNG ANAK DENGAN AL QURAN



Salah satu keistimewaan Islam adalah diturunkannya Al-Quran, yang mempunyai kedudukan luar biasa bagi manusia untuk menemukan kebahagiaan sejati, sebagaimana wasiat Rasulullah menjelang wafatnya: “ Kuwariskan kepada umatku dua hal, yang jika berpegang teguh kepada keduanya niscaya tidak akan tersesat selama-lamanya, yakni Kitabullah (Al-Quran) dan Sunnah Rasulullah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Rasulullah SAW senantiasa mendorong kaum muslimin untuk mempelajari Al-Quran karena kemuliaan yang luar biasa di dalamnya. Seperti disebut dalam sebuah hadits dari Aisyah r.a, “ Orang mu’min yang mahir membaca Al-Quran maka kedudukannya di akhirat ditemani oleh para malaikat yang mulia. Sedangkan orang yang membaca Al-Quran dengan gagap dan ia sulit dalam membacanya maka ia mendapat dua pahala .” (HR. Muslim) Dua pahala yang dimaksud di atas adalah pahala membaca dan pahala karena kesulitannya saat membaca. Dan dalam hadist yang lain, Rasulullah SAW bersabda: “ Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Quran dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari dari Ustman ra.)
Selain hadits-hadits di atas yang berbicara tentang keutamaan Al Qur'an, dalam hadist yang lain juga disebutkan bahwa akhlak Rasulullah SAW adalah Al-Quran.. Jadi, dengan mengenalkan Al-Quran kepada anak-anak, berarti seorang ayah sedang mencoba untuk membentuk akhlak yang mulia sebagaimana akhlak Rasulullah. Karena dengan  mengenal Al-Quran lebih dekat dengan mengkajinya secara bertahap berarti kita belajar mengenal akhlak Rasulullah
Ayah Penyiap Penghafal Al-Quran 
Salah satu hal yang penting dalam mempelajari Al-Quran adalah menumbuhkan semangat untuk tetap bercita-cita manghafalkan Al-Quran. Bahkan adalah suatu musibah ketika cita-cita untuk menghafalkan Al Quran ini hilang dalam hidup seorang muslim.
Banyak hadits Rasulullah yang mendorong untuk menghafal Al-Quran atau membacanya di luar kepala sehingga hati seorang muslim tidak kosong dari sesuatu bagian dari Kitabullah. Dalam hadits dari Ibnu Abbas riwayat Imam Tirmidzi bahwa orang yang tidak mempunyai hafalan Al-Quran sedikitpun adalah seperti rumah kumuh yang mau runtuh.
Di antara penghargaan yang pernah diberikan Rasulullah kepada para sahabat penghafal Al Quran adalah perhatian yang khusus kepada mereka yang syahid dalam perang Uhud. Rasulullah mendahulukan pemakaman para sahabat yang paling banyak hafalan Al-Qurannya. Ini menunjukkan kemuliaan yang didapatkan oleh para penghafal Al-Quran
Seorang ayah hendaklah selalu berinterkasi secara baik dengan anak-anaknya dalam pembuatan jadwal yang berhubungan dengan Al-Quran. Misalnya, mempersiapkan dan membuat perencanaan dengan waktu-waktu tertentu bersama anak guna mempelajari dan menghafalkan Al-Quran.
Tapi biasanya, malas menjadi faktor penghambat. Malas merupakan salah satu sifat manusia yang sering menghinggapi diri seseorang termasuk anak-anak. Sifat ini menjadi musuh utama bagi seseorang yang ingin maju, termasuk kemalasan dalam berinteraksi dengan Al-Quran.
Selain ikhtiar, seseorang yang dihinggapi rasa malas perlu mendekatkan diri kepada Allah dengan berdoa:
“ Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keluh kesah dan rasa sedih, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat bakhil dan penakut, dari cengkeraman utang dan laki-laki yang menindasku “ (HR. Bukhari).
Ada beberapa faktor yang menyebabkan orang malas menghafal Al-Quran, diantaranya :
1.     Merasa menghafal adalah pekerjaan yang sulit dan membosankan,
2.     Merasa bacaan Al-Qurannya belum standar tingkat kefasihannya,
3.     Belum saatnya untuk menghafal,
4.     Kondisi fisik yang tidak memungkinkan,
5.     Beranggapan bahwa menghafal Al-Quran tidak penting,
6.     Tidak tahu dari mana mulai menghafal,
7.     Keinginan yang tidak ada,
8.     Kesibukan yang merenggut waktu,
9.     Ada pekerjaan lain yang lebih didahulukan,
10.                        Lingkungan yang tidak mendukung,
11.                        Hiburan TV serta internet yang lebih menarik.
Sedangkan hal-hal tertentu yang dapat menguatkan kehendak dalam menghafalkan Al-Quran adalah sebagai berikut:
1.     Bercita-cita untuk menghafal Al-Quran
2.     Bergaul dengan orang yang menghafal Al-Quran,
3.     Membuat jadwal menghafal Al-Quran,
4.     Terus istiqomah dengan cita-citanya,
5.     Selalu menjaga makanan yang halal,
6.     Keinginan untuk membantu orang tuanya di akhirat,
7.     Yakin bahwa menghafal Al-Quran adalah mudah sebagaimana penegasan Allah SWT,
8.     Memperbanyak berdoa kepada Allah agar dipermudah dalam menghafal.
Suatu hari Rasulullah saw mengutus sebuah delegasi yang banyak jumlahnya, kemudian Rasulullah mengetes hafalan mereka. Satu persatu disuruh membaca apa yang sudah dihafal. Sampailah pada sahabat yang masih mudah usianya, lalu beliau bertanya, “ Surah apa yang engkau hafal?” Ia menjawab,” Aku hafal surah ini…surah ini…dan surah Al-Baqarah.” Benarkah engkau hafal surah Al-Baqarah?” Tanya Nabi lagi. Sahabat itu menjawab, “Benar.” Nabi lantas bersabda, “ Berangkatlah engkau, dan engkaulah pemimpin delegasi”
Ketika ayah mampu membentuk generasi-generasi terbaik karena mempelajari Al-Quran maka insya Allah ada jaminan bahwa anak-anak akan bangga dan hormat kepadanya.
Rasulullah juga bersabda dalam hadits shahih Bacalah olehmu Al-Quran, sesungguhnya ia akan menjadi pemberi syafa’at pada hari kiamat bagi para pembacanya “
“ Dan tidaklah berkumpul suatu kaum di dalam satu rumah dari rumah-rumah Allah, dimana mereka membaca Kiabullah (Al-Quran) dan saling mengajarkannya di antara mereka kecuali turun di tengah-tengah mereka ketenteraman, dinaungi rahmat, dan dikelilingi para malaikat serta Allah swt menyebut-nyebut mereka kepada siapa saja yang berada disisi-Nya.”
Dapat ditegaskan disini bahwa satu hal yang penting dalam pendidikan anak-anak adalah mengajarkan Al-Quran. Mulailah dari diri pribadi seorang ayah untuk senantiasa dekat dengan Al-Quran, mempelajarinya, lalu mengajarkannya kepada anak-anak sehingga akan bermunculan generasi-generasi Al-Quran yang kuat.
Sayyid Qutb mengatakan bahwa generasi sahabat Rasulullah adalah generasi yang unik. Dengan bersumber pokok yang kuat, membuat generasi pertama menjadi generasi yang unik dengan Al-Quran. Hanya Al-Quran yang menjadi sumber panduan, pedoman, perjalanan hidup, dan perilaku mereka.
Karena begitu pentingnya menghafal Al-Quran, seorang ayah perlu menguasai metode untuk menghafal Al-Quran. Setelah menghafal Al-Quran menjadi kebiasaan keluarga, langkah selanjutnya adalah menjaga hafalan. Sebab pengaruh lingkungan dan menariknya acara-acara TV membuat anak-anak kita cepat lupa dengan hafalannya.
Rasulullah saw bersabda: Peliharalah selalu Al-Quran. Demi Dzat yang jiwaku berada ditangan-Nya, sungguh ia cepat hilang dibanding unta yang terikat. (HR. Bukhari dari Abu Musa)

(Mochamad Arif Santoso) Dikutip Dari Sumber : Ayah Juara - 7 Hari menjadi Ayah Qur’ani, oleh Dr. Muhammad Yusuf Efendi) 

0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com