HUKUM IDDAH DAN IHDAD


Pengasuh:Ustadzah Latifah Munawarah, MA.
Kandidak Doktor, Kuliah Syariah, Universitas Kuwait
Rubrik ini terbuka bagi siapapun yang ingin bertanya seputar Islam. Kirimkan pertanyaan anda ke Redaksi melalui SMS ke no +96567786853, atau email ke : alhusnakuwait@gmail.com, Mohon sertakan nama dan alamat anda
Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakaatuh
Kepada Redaksi bulletin, saya ada pertanyaan seputar kewajiban yang harus dilakukan oleh ibu saya saat ditinggal wafat oleh ayah, saya dengar bahwa ia tidak boleh memakai wangi-wangian juga tidak boleh berhias. Nah apakah hal ini berlaku pula untuk ibu saya yang sudah berusia lanjut?. Terimakasih sebelum dan sesudahnya. Wassalamualaikum.
Hamba Allah – Kuwait

Assalamualaikum Warahmatullah.
Alhamdulillah was sholatu was salamu ala Rasullillah, wa ba’du.
Semoga Allah mengampuninya, merahmatinya, mengangkat derajatnya bersama orang-orang yang mulia, Allah ampuni dia dan kita juga. Aamin.
Doa kami juga semoga ibu dapat bersabar dalam musibah ini, dapat bersabar sebagaimana sabarnya Nabi Ayub ketika wafat anak-anaknya, habis semua hartanya. Seperti sabarnya Nabi Ya’qub ketika berpisah dengan Yusuf kecil, sabarnya Rasulullah Muhammad saat wafatnya orang yang paling dicintainya Khodijah dan juga pamannya Abu Tholib yang menjadi penolong dakwahnya. Karena hanya sabar dan mengembalikan semuanya kepada Allah, mengingat kembali bahwa apa yang pemilik mereka yaitu Allah, sabar yang dapat meneguhkan dan menguatkan kita menjalankan hari-hari setelah itu. Sabar lah pintu pahala besar, pintu rahmatNya.
Justru ketidak sabaran dengan menyalahkan taqdir ataupun dengan luapan kemarahan bukanlah merupakan solusi. Apalagi dapat mengembalikan orang-orang yang kita cintai hidup kembali.  Malah akan menjadikannya semakin keruh, pun hati tidak menjadi tenang.

“…Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, [yaitu] orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun". Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al Baqarah: 155-157)

Selain sabar, kita jadikan momen seperti ini sebagai momen nasehat yang berarti bagi diri kita, peringatan bahwa kita pun akan menyusulnya, supaya kita bersiap-siap jika suatu saat kita sendiri yang akan dipanggilNya.
Adapun tentang hukum-hukum yang terkait dalam masalah ini, yaitu apa saja yang diwajibkan bagi wanita muslimah ketika suaminya wafat. Dalam Islam ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh seorang muslimah dalam musibah ini. Sebelumnya, akan dipaparkan lebih dulu tentang kondisi wanita yang ditinggal oleh suaminya, bagaimana mereka diperlakukan sebelum Islam datang, yaitu pada masa jahiliyah. Diantaranya:
1.     Keluarganya yang mewarisi harta si suami ini, juga mewarisi istri yang ditinggalkannya. Mereka berhak untuk menikahinya, bahka menikahkannya dengan siapa saja yang mereka kehendaki. Hadits riwayat Bukhori menguatkan hal ini.
2.     Wanita yang ditinggal meninggal suaminya ini tidak berhak mendapatkan warisan dari harta suaminya, sama sekali. Walaupun si suami meninggalkan harta yang sangat banyak. Walaupun si istri ini sangat membutuhkan untuk nafkah dirinya sendiri. Bagaimana ia akan mewarisi, toh ia sendiri ibarat barang yang ikut menjadi barang warisan di antara keluarganya. Wanita dalam pandangan arab sebelum Islam, mereka tidak berhak dalam harta waris.

Setelah datang Islam, kedua hal diatas di hapus. Islam datang untuk memuliakan wanita. Tidak menjadikan wanita ibarat barang dapat diwariskan, bahkan Islam datang dengan menetapkan hak waris bagi wanita jika ia ditinggal wafat suaminya. Dan salah satu bentuk pemuliaan Islam terhadap wanita yaitu, ketika suaminya wafat, maka ada syariat yang mengaturnya.
Syekh Qaradhawi dalam buku Fatwa Kontemporer menjelaskan, bahwa Islam mewajibkan tiga hal bagi wanita yang ditinggal wafat suaminya: Iddah, Ihdad, dan menetap di rumah.

Pertama Iddah, maksudnya yaitu tenggang masa dimana ia tidak boleh menikah, yaitu selama empat bulan sepuluh hari, jika tidak sedang hamil. Adapun jika ia sedang hamil, maka iddahnya yaitu hingga ia melahirkan, walaupun lebih pendek  atau bahkan lebih lama dari empat bulan sepuluh hari. Barangkali muncul pertanyaan, mengapa iddah ini lebih panjang dari iddah ketika cerai (tiga kali haidh), hal ini dikarenakan seorang suami ketika meninggal akan membawa kesedihan tersendiri pada diri seorang perempuan, kesedihan yang melebihi dari perpisahan karena cerai, maka iddahnya sedikit lebih lama dari iddah karena cerai. Iddah empat bulan sepuluh hari ini supaya dapat menghapus kesedihan baginya.

“Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri [hendaklah para isteri itu] menangguhkan dirinya [ber’iddah] empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis iddahnya, maka tiada dosa bagimu [para wali] membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat. (QS. Al Baqarah: 234)

Kedua Ihdad: maksudnya yaitu bahwa seorang wanita ketika ditinggal wafat suaminya, ia diwajibkan untuk menjauhi dari berhias dan dari hal-hal yang dapat mengundang perhatian orang. Misalnya berdandan, memakai celak, memakai baju-baju yang termasuk dalam batasan baju baju yang indah, memakai wangi-wangian, perhiasan; anting, kalung, cincin dsb. Hal ini disebabkan karena besar hak suami terhadapnya. Hal ini pula karena memang pada dasarnya secara hati, wanita tiada hasrat melakukannya dalam waktu yang paling sedih dan tergores hatinya. Dan Islampun memberikan syariat yang sesuai dengan ini. Hukum ihdad ini wajib menurut mayoritas ulama.

“Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk berihdad terhadap mayat lebih dari tiga hari kecuali bila yang meninggal itu suaminya, maka ia berihdad selama empat bulan sepuluh hari.” (Muttafaq Alaih)
Zainab binti Ummu salamah berkata, bahwa Ummu Salamah berkata, ‘Datang seorang wanita menemui Rasulullah n. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, suami putriku telah meninggal dunia. Sementara putriku mengeluhkan rasa sakit pada matanya. Apakah kami boleh memakaikan celak pada matanya?’ ‘Tidak,’ jawab Rasulullah n sebanyak dua atau tiga kali. Setelahnya beliau bersabda: “Masa ihdad itu hanyalah empat bulan sepuluh hari. Adapun dulu di masa jahiliah salah seorang wanita dari kalian menjalani masa iddahnya selama satu tahun.” (Muttafaq Alaih)

Bahkan kewajiban ini juga berlaku pula bagi setiap istri yang ditinggal meninggal suaminya, walaupun mereka belum “berkumpul” sekalipun, baik wanita itu masih kecil, ataupun sudah besar, masih perawan (ketika dinikahi suaminya) ataupun sudah janda. Hal ini seperti yang disebutkan oleh Imam Nawawi: ““Dalam hadits di atas ada dalil wajibnya berihdad bagi wanita yang menjalani ‘iddah karena wafatnya suami. Perkara ini secara umum disepakati walaupun ulama berselisih dalam perinciannya. Ihdad ini wajib bagi setiap wanita yang menjalani ‘iddah karena kematian suami, baik ia telah ‘berkumpul’ dengan suaminya atau pun belum, si wanita masih kecil atau sudah besar, perawan (ketika dinikahi suaminya) atau sudah janda, wanita merdeka atau budak4, wanita muslimah atau wanita kafir. Ini merupakan madzhab Al-Imam Asy-Syafi’i t dan jumhur”. Adapun sebagian ulama menyatakan bahwa ihdad hanya berlaku bagi wanita muslimah saja.

Ihdad ini juga berlangsung selama empat bulan sepuluh hari, seperti halnya iddah, bagi istri yang hamil, ihdadnya hingga ia melahirkan. Masa empat bulan sepuluh hari ini adalah masa yang pendek jika dibandingkan masa ihdad dan iddah di jaman jahiliyah, dimana mereka beriddah dan berihdad selama satu tahun, masa satu tahun seperti ini masih berlaku di awal mula Islam, seperti yang ada dalam surat Al Baqarah: 240, “Dan orang-orang yang meninggal dunia di antara kalian dengan meninggalkan istri-istri, hendaklah mereka berwasiat untuk istri-istrinya, yaitu diberi nafkah hingga setahun lamanya…” 

Tetapi ayat tersebut mansukh, dihapus oleh ayat 234 dari surat Al Baqarah yang sudah disebutkan sebelumnya.

Ketiga menetap di rumah. Maksudnya yaitu ia menetap dan tinggal di rumah dimana suaminya wafat, dan tidak bepergian selama masa iddah. Tetapi ia boleh keluar rumah jika ada keperluan, misalnya berobat, atau membeli sesuatu jika tiada yang dapat membelikan untuknya, atau pergi ke tempat kerjanya bagi wanita pekerja. Secara detail Syekh Ibnu Utsaimin berkata tentang ihdad ini:”dibolehkan baginya untuk keluar pada siang hari tidak dimalam hari. Tetapi tidak boleh pindah. Adapun keluar rumah, maka ada tiga kondisi: karena darurar, karena keperluan atau keluar tanpa adanya keperluan.
Pertama: Jika keluar tanpa ada perlu, maka tidak boleh, misalnya keluar untuk piknik, atau untuk menjalankan umrah.
Kedua: jika keluar karena darurat, maka dibolehkan keluar, baik siang ataupun malam. Misalnya ketika ada kebakaran di rumah, atau ketika turun hujan deras, dan takut rumah tsb akan roboh, maka keluar karena adanya darurat.

Sikon ketiga yaitu jika keluar karena adanya keperluan, misalnya membeli makanan, atau ia seorang guru, atau karena ia seorang pelajar lalu keluar untuk belajar, maka boleh keluar pada siang hari saja. Atau misalnya keluar karena menengok orang tua yang sedang sakit, maka dibolehkan keluar pada siang hari saja.


Inilah hukum-hukum seputar iddah dan ihdad bagi wanita muslimah ketika ditinggal wafat oleh suaminya, dari sini diketahui bahwa hukum ini sifatnya umum bagi semua muslimah, baik masih muda ataupun sudah lanjut usia, dikarenakan dalil-dalil yang ada tidak ada pengecualian. Semoga kita semua diberi kekuatan untuk menjalankan syariat Islam. Wallahu a’lam. 


Pengasuh : Ustadzah Latifah Munawaroh,  MA..
Lulusan S2 jurusan Syariah Kuwait University
saat ini sedang mengikuti program S3 di Kuwait University

Rubrik ini terbuka bagi siapapun yang ingin bertanya seputar Islam. Layangkan pertanyaan anda ke Redaksi melalui  email ke :  alhusnakuwait@gmail.com . Mohon sertakan nama dan alamat anda

0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com