Jelang Keabadian



By: Ummu Rafi


Ketika kata kematian dibicarakan, maka beragam respon manusia terungkap. Ada yang menanggapinya dengan kesiapan yang matang, adapula yang begitu ketakutan seolah ia adalah ancaman, pun ada yang menanggapinya dengan senda gurau. Bila kematian hanyalah sebuah tidur panjang maka kehidupan setelah mati itu pastilah sangat dinantikan, karenanya pernahkah terpikir sudah adakah sederet kesiapan kita untuk jelang keabadian.

Di setiap zaman, pada setiap keadaan selalu ada keseimbangan dalam dua sisi dari kehidupan, ada kebaikan ada kejahatan, ada kekayaan ada kemiskinan, ada perdamaian ada kerusuhan, ada sakit ada masanya sehat. Lantas dalam menjalani itu semua, kita berada disebelah mana, selalukah kita berada ditempat yang aman? Yang baik, yang kaya, yang sehat yang damai, atau sebaliknya?.

Menentukan sikap dalam menghadapi semua keadaan tersebut diatas adalah sebuah proses yang hasilnya nanti akan dipertanggungjawabkan sebelum menuju rumah keabadian, namun saat masih sehat, saat masih kaya jarang sekali terpikir oleh kita untuk membagi rasa tersebut pada mereka yang berada berbeda tempat dengan kita. Lupa dan mereguk bahagia sendiri, lupa atau tak mau perduli seperti itulah yang umumnya terjadi. Kematian tak bisa dihindari, tak bisa ditunda nanti, namun perjalanan sebelum menuju kematian itu adalah lorong-lorong panjang yang bisa kita pilih, kanan atau kiri, yang baik atau buruk, benar dan salah.

Mengingat kematian mestinya selalu terpatri dihati dan sanubari, pada setiap desah nafas dan riuhnya hari, kita harus ingat ada kehidupan abadi nanti, jaga langkah kaki dan selalu mawas diri dalam menentukan hal yang luar biasa nilainya nanti .

Kematian tak pernah bisa menunggu kesempurnaan diri suatu pribadi, kematian tak kan bisa ditawar sampai menunggu kesiapan diri. Maka simaklah kehidupan yang kita punya, sudahkah hati ini bersih untuk nantinya kita bersiap diri menempatkan diri ditempat terindah dan terbersih.. Sudahkah amalan harian kita jalani dengan murni dari lubuk hati jika nantinya kita ingin mendapatkan aliran kasih yang tiada henti... Sudahkah lisan ini tiada menyakiti untuk nantinya dapat menempati rumah yang didalamnya hanya akan terdengar kata-kata indah nan baik lagi tak menyakiti.

Sungguh tak ada kepalsuan dalam menjalani hari-hari itu nanti. Tak ada kelelahan untuk menikmati keindahan didalamnya. Tak ada manipulasi, tak ada angkara, tak ada pertikaian, hari-hari yang akan dijalani adalah  ketentraman yang kekal, kenikmatan yang dapat direguk tanpa batas, tanpa beban. Jika kematian itu hanyalah sebuah tidur panjang untuk menuju keabadian maka bersiaplah untuk menyambut kehidupan lain yang lebih sempurna, karena dalam kematian tentu tak ada lagi kekuatan, bahkan untuk memohonkan ampunan bagi diri kita sendiri. Sepi sendiri dalam sepetak tanah, berteman kerikil dan hewan kecil dalam tanah, yang tak ada pertolongan selain yang dihantarkan karena amalan semasa kita berada didunia fana. Tepat pada moment kematian nanti, akan adakah orang yang merasa kehilangan kita, merindukan kita, akankah banjir airmata, mengalir tak terbendung dari orang-orang yang pernah merasakan kehangatan dan kenyamanan saat mereka bersama kita..

Ya..Allah dzat yang Maha Suci.. benarkah mati itu menakutkan, menyakitkan atau justru membebaskan kami dari semua muslihat dunia ini? Ya Robbi.. berilah kami kekuatan agar selalu siap kapanpun dan dimanapun saat hari dimana kami atau orang-orang yang terkasih harus datang menghadapMu? , Ya Allah ya Robbi…tetapkan kami selalu berada dijalanMu, pada agama yang Haniif ini hingga hembusan nafas terakhir kami dalam keadaan khusnul khotimah nanti…Aamiin.. (Ummu Rafi)

0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com