KISAH TIGA INSAN (bagian 1)



By; Ruli Amirullah

Madinah menjelang Isya…
Mendengar suara getaran halus, ia menghentikan bacaannya sebentar. Ia memandang keatas, sesuatu yang ditunggu-tunggu sedang terjadi. Perlahan namun pasti, kubah dalam Masjid Nabawi mulai bergeser. Menampakkan langit yang bagai tiada ujung di atas sana. Beberapa orang seperti dirinya, dengan kagum memandang ke langit. Sementara beberapa lainnya tetap khusyuk berdoa, mengaji dan sholat. Ketika kubah telah bergeser dengan sempurna, ia dapat melihat beberapa bintang disana. Berkerlip indah di langit yang membentang. Setelah puas, matanya ia pejamkan, teringat mengenai segala hal yang terjadi dalam setahun terakhir, tentang kenyataan-kenyataan yang begitu meremuk-redamkan hatinya…

Insan Pertama
Irfan masih ingat ketika 6 bulan lalu ia berada di sebuah ruang putih yang berbau khas rumah sakit sambil diam tak bergerak memandang dokter di hadapannya. Baru saja ia mendengar dokter tersebut mengatakan sesuatu yang begitu membuat pikirannya mendadak berhenti. Vonis dokter mengatakan bahwa usia anaknya, Nadia, tinggal 6 bulan lagi. Dan itu benar-benar terasa menyiksa bahkan lebih menyiksa dibanding rasa nyeri yang mungkin dirasakan anaknya belakangan ini.

Sepanjang perjalanan pulang Nadia menangis dalam sunyi. Tidak mengeluarkan suara, tapi pundaknya terus berguncang. Irfan pun tak mampu berkata-kata untuk menghiburnya. Biasanya istrinyalah yang pandai bicara, tapi istrinya sudah meninggal setahun lalu. Ya, istrinya baru saja meninggal setahun kemarin, dan kini ia kembali akan kehilangan anak satu-satunya dalam waktu 6 bulan lagi.
Ia sungguh ingin berontak, berteriak menantang langit… Seharusnya bisa menenangkan hati putrinya yang berusia 23 tahun itu. Ia tahu hati anaknya pasti hancur sama seperti dirinya. Semestinya dirinya menghibur dan membuat kuat hati Nadia. Tapi sayangnya, ia sungguh-sungguh tak tahu harus berkata apa pada malam itu… Ia kemudian segera membuka matanya lagi, tak ingin kenangan itu malah membuatnya menangis sedih. Tidak! Ia sudah bertekad, tawa dan tangisnya adalah bukan untuk dunia yang fana ini. Segala kejadian telah menempa dan menyadarinya bahwa tiada yang abadi kecuali Tuhan Pemilik Alam Semesta.
Pandangannya kembali ia jatuhkan pada goresan-goresan huruf arab indah yang ada dijemarinya. Ia kembali melantukan ayat suci Al Quran dengan suara yang lirih..

Insan Kedua
Satu bulan pertama sejak vonis dijatuhkan, Nadia menjadi seperti orang yang telah mati sebelum wafat. Kehilangan gairah untuk melakukan apapun. Pekerjaannya ia tinggalkan, senyumnya ia lupakan, gairah hidupnya ia padamkan. Ia benar-benar sudah mati sebelum ajal menjemput. Beruntung ia dikelilingi keluarga dan teman-teman yang begitu peduli padanya. Terutama ayahnya yang walau tak pandai berkata tapi ia tahu bahwa hati ayahnya selalu melindunginya. Beruntung pula Robby, suami yang baru saja menikahinya, begitu tetap mencintainya..

Bulan kedua ia mulai bersahabat dengan takdir. Ia mulai berpikir untuk mempersiapkan kematiannya sebaik mungkin. Hampir semua sholat ia kerjakan di tepat waktu. Bahkan saat subuh dan magrib ia lakukan di masjid dan berjamaah dengan khusyuk. Tak jarang disaat jamaah lain sudah bergerak keluar masjid untuk melanjutkan aktivitas mereka, ia masih duduk sambil melanjutkan bacaan-bacaan Al Quran. Ia seolah ingin berpacu dengan waktu untuk sebanyak mungkin mengumpulkan segala amal ibadah. Berupaya keras agar timbangan kebajikannya lebih berat dari kotoran dosa-dosanya…

Bulan ketiga Nadia terkejut ketika mendengar ceramah seorang ustad. Bahwa ada amalan yang akan terus mengalir bahkan ketika seseorang sudah di alam kubur sekalipun. Yaitu shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak yang sholeh. Maka ia menyadari kekurangan amalnya. Ia ingin pahala yang tiada henti tersebut. Ia pun kemudian mengumpulkan buku-buku bacaan yang selama ini ia koleksi, ia minta ijin pada ayahnya untuk mengubah garasi dirumahnya menjadi semacam perpustakaan. Ia persilahkan tetangga-tetangga untuk datang dan membaca buku-bukunya. Tidak hanya itu, ia pun kemudian mencoba mengajarkan anak-anak kecil bahasa inggris yang memang ia kuasai. Robby pun tampak antusias membantu mengajarkan matematika. Tak cukup sampai disitu, Nadia kemudian mengajak beberapa anak lulusan sma yang masih belum bekerja untuk ikut mengajari anak-anak tersebut di sore hari. Dari tabungannya sendiri ia kemudian memberi upah secukupnya pada mereka. Bulan ke empat ia malah kembali mencoba bekerja, pengalamannya sebagai marketing membuatnya diterima bekerja pada suatu biro perjalanan. Ia ingin mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya agar bisa membayar orang-orang untuk ikut mengajari anak-anak kurang mampu. Juga untuk membeli buku-buku terbaru sebagai pelengkap koleksi perpustakaannya.

Hidupnya kembali bergairah, bukan karena ia merasa akan hidup selamanya, tapi jutsru karena ia sadar bahwa hidupnya tinggal beberapa bulan lagi. Dan karena itu ia benar-benar ingin menggunakan setiap detik hidupnya untuk hal yang bermanfaat. Ia benar-benar ingin meraih pahala yang abadi… Ia terus membaca, sebentar lagi akan masuk ke surat Ar-Rahmaan. Ia menarik nafas panjang dan berhenti sebentar. Setiap baca surat ini, entah mengapa ia akan merasakan sesuatu yang akan membuatnya begitu tergetar. Dengan perlahan ia mulai membaca. Dan benar saja, ketika matanya mulai bertemu huruf-huruf yang berbunyi Fa-biayyi alaa'i Rabbi kuma tukadzdzi ban (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?), kedua bola matanya mulai menghangat. 

Insan ketiga
Perjalanan sekian belas jam benar-benar membuat badan Robby terasa begitu pegal. Beruntung sempat transit beberapa jam di Doha. Tapi walau begitu, tetap saja keinginan terbesarnya saat ini adalah segera keluar dari badan pesawat dan melangkah keluar. Sebentar lagi akan terwujud. Karena sekarang pesawatnya sudah bergerak pelan menuju terminal.


Robby memandang keluar jendela. Pandangannya tertuju pada bangunan yang terlihat begitu sederhana untuk ukuran bandara . Bangunan Lagos International Airport lebih mirip bandara Halim dengan penambahan 3-4 lantai. Jangan samakan dengan bandara Soekarno Hatta. Tanpa sadar Robby menggelengkan kepala memikirkan bahwa dirinya kini sungguh-sungguh berada di Lagos, ibukota Nigeria. Andai masih belum meihat secara langsung, mungkin ia masih susah untuk percaya. Bertugas di Lagos memang benar-benar membuatnya terkejut. Banyak rekan-rekannya dikirim ke Houston, London, Taiwan, Bangkok atau Kuala Lumpur. Karena memang di kota-kota tersebutlah kantornya memiliki cabang, jadi sudah sering terjadi ada karyawan yang dikirim ke sana untuk mengurusi suatu hal. Tapi bukan Lagos. Karena tidak ada cabang di Afrika. Setidaknya sampai saat ini, karena sebentar lagi mungkin kantornya memang akan memiliki cabang benua hitam ini. Semua tergantung hasil survey yang ia lakukan. Sebenarnya ia begitu menyenangi pergi ke luar negeri, kemanapun itu, bahkan mungkin ke antartika sekalipun, karena itu memang sudah jadi mimpinya. Tapi sayangnya mimpinya tersebut menjadi nyata disaat isterinya sedang butuh dirinya…(bersambung). 

0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com