KUDUS "KOTA SANTRI




Oleh : Ummu Hanna.

Mengingat kota Kudus, membawa kita kepada suasana yang rindang dan tenang, tetapi bukan berarti kota Kudus tanpa dinamika. Kudus merupakan daerah industri dan perdagangan, dimana sektor ini mampu menyerap banyak tenaga kerja. Jiwa dan semangat wirausaha masyarakat diakui ulet, semboyan jigang (ngaji dagang) yang dimiliki masyarakat mengungkapkan karakter dimana di samping menjalankan usaha ekonomi juga mengutamakan mencari ilmu.

Kudus merupakan kabupaten terkecil di Jawa Tengah dengan luas 42.516 ha ini terletak diantara 4 kabupaten yaitu di sebelah utara berbatasan dengan Jepara dan Pati, sebelah barat dengan Demak dan Jepara, sebelah selatan dengan Pati dan Grobogan dan sebelah timur dengam Pati.

Mengingat kembali sejarah Kota Kudus tidak terlepas dari Sunan Kudus. Sunan Kudus atau Syeh Ja'far adalah seorang senopati di kerajaan Demak Bintaro, beliau juga seorang ahli hukum agama Islam. Karena keahlian dan ilmunya, maka Sunan Kudus diberi tugas memimpin para Jamaah Haji, sehingga beliau mendapat gelar “Amir Haji” yang artinya orang yang menguasai urusan para Jama’ah Haji. Beliau pernah menetap di Baitul Maqdis untuk belajar agama Islam. Ketika itu disana sedang berjangkit wabah penyakit, sehingga banyak orang yang mati. Berkat usaha Ja’far Shoddiq, wabah tersebut dapat diberantas. Atas jasa-jasanya, maka Amir di Palestina memberikan hadiah berupa Ijazah Wilayah, yaitu pemberian wewenang menguasai suatu daerah di Palestina. Pemberian wewenang tersebut tertulis pada batu yang ditulis dengan huruf arab kuno, dan sekarang masih utuh terdapat di atas Mihrab Masjid Menara Kudus.

Peran Sunan Kudus
Sunan Kudus memohon kepada Amir Palestina yang sekaligus sebagai gurunya untuk memindahkan wewenang wilayah tersebut ke pulau Jawa. Permohonan tersebut dapat disetujui dan Ja’far Shoddiq pulang ke Jawa. Setelah pulang, Ja’far Shoddiq mendirikan Masjid di daerah Kudus pada tahun 1956 H atau 1548 M. Semula diberi nama Al Manar atau Masjid Al Aqsho, meniru nama Masjid di Yerussalem yang bernama Masjidil Aqsho. Kota Yerussalem juga disebut Baitul Maqdis atau Al-Quds.

Dari kata Al-Quds tersebut kemudian lahir kata Kudus, yang kemudian digunakan untuk nama kota Kudus sekarang. Masjid buatan Sunan Kudus tersebut dikenal dengan nama masjid Menara di Kauman Kulon. Sejak Sunan Kudus bertempat tinggal di daerah itu, jumlah kaum muslimin makin bertambah sehingga daerah disekitar Masjid diberi nama Kauman, yang berarti tempat tinggal kaum muslimin.

Di dalam menyebarkan agama Islam, beliau, melihat situasi dan kondisi masyarakat setempat. Salah satu bukti dari hal ini adalah Menara Kudus. Menara Kudus adalah bangunan tua yang terbuat dari batu bata merah berbentuk menara yang merupakan hasil akulturasi kebudayaan Hindu-Jawa dan Islam. Menara Kudus bukanlah bangunan bekas Candi Hindu melainkan menara yang dibangun pada zaman kewalian . Bentuk konstruksi dan gaya arsitektur Menara Kudus mirip dengan candi-candi Jawa Timur di era Majapahit sampai Singosari misalnya Candi Jago yang menyerupai menara Kulkul di Bali. Menara Kudus menjadi simbol “Islam Toleran” yang berarti Sunan Kudus menyebarluaskan agama Islam di Kudus dengan tetap menghormati pemeluk agama Hindu-Jawa yang dianut masyarakat setempat. Ditiang atap Menara terdapat sebuah candrasengkala yang berbunyi "Gapura rusak ewahing jagad". Menurut Prof. DR RM Soetjipto Wirjosoepano, candrasengkala ini menunjukkan Gapuro ( 6 ), Rusak ( 0 ), Ewah ( 6 ) dan Jagad ( 1 ) yang di dalam bahasa jawa dibaca dari belakang sehingga menjadi 1609 yang bermakna Menara dibangun pada tahun Jawa 1609 atau 1685 M.

Selain penamaan kota kudus dan masjid menara Kudus yang berkaitan dengan Masjidil Aqsa, di daerah Kudus sebelah utara yang merupakan pusat penyebaran Islam yang dilakukan oleh Raden Said, adik dari Sunan Kudus, juga dinamakan dengan nama bukit di mana Baitul Maqdis berada yaitu bukit Moria, sehingga Raden Said lebih dikenal dengan nama Sunan Muria. Keberadaan kedua wali tersebut di wilayah ini menjadikan kota ini juga dikenal dengan julukan kota wali.

Jejak penyebaran Islam di Kudus bukan hanya terlihat pada masa silam, tapi gairah keislaman di Kudus masih tampak sampai sekarang, hal ini terbukti dengan banyaknya pondok pesantren yang berjumlah kurang lebih 86 pondok pesantren yang tersebar di seluruh Kudus sehingga sudah sepantasnya Kudus mendapat julukan Kota santri. Kudus sangat dikenal sebagai pencetak ahli Quran. Banyak pondok yang mengajarkan ilmu Al-Qurandan berusia puluhan tahun, seperti pondok Darul Ulum yang terletak di Ngambalrejo, yang telah berdiri sejak tahun 1960an, Al Qumaniyyah Bareng yang berada di Jekulo berdiri pada tahun 1923, tetapi banyak juga pondok-pondok pesantren yang berdiri pada sekitar tahun 2000 dengan kualitas yang tidak kalah bagusnya. Seperti Manba'ul Qur'an (huffadz) yang terletak di Rendeng Utara yang berdiri pada tahun 1999, Pondok Yanabi'ul Qur'an untuk anak-anak putri yang berdiri pada tahun 2004 , namun diantara pondok-pondok itu ada satu pondok yang sangat terkenal dengan ilmu Al-Qurannya, yakni Pondok Pesantren Yanbu'ul Quran, yang mengajar santri putra, putri maupun anak-anak. Pondok pesantren warisan KH Arwani Amin, itu kini diasuh oleh KH Ulin Nuha Arwani. Pondok Tahfidz Yanbau'ul Qur'an ini berupa pesantren salaf yang menitikberatkan pada pengajaran Al Qur'an yaitu meliputi Tahsin (pembenaran bacaan), tahfidz (hafalan) dan qiro'ah sab'ah. Pondok pusat terletak kurang lebih 1,5 km dari pusat kota kudus atau tepatnya di Jl. KHM Arwani, di Kajeksaan Kudus. Sedangkan untuk pondok anak terletak di Krandon.


Dari berbagai warisan lain yang ditinggalkan di Kudus, salah satunya dalam dunia kuliner. Kalau kita bicara soal ini, ada hal unik yang tidak akan kita peroleh di kota lain. Keunikan ini terdapat pada masakan daging, mulai dari soto sampai satenya menggunakan daging kerbau. Dan ini bukan suatu kebetulan, dimana menurut cerita yang ada hal ini berkaitan dengan bentuk terima kasih dari sunan Kudus kepada pendeta Hindu yang pernah menolongnya.. Satu keunikan yang mungkin perlu untuk dikaji. Setidaknya ada pelurusan niat dalam hal ini, yaitu menjadikan daging kerbau menjadi satu ciri khas kuliner di Kudus saja dan meninggalkan niat menghormati hal-hal yang dijadikan penghormatan kepercayaan di luar Islam . Inilah sekilas kota Kudus, kota kecil yang penuh dengan beragam keunikan, dinamika dan kaya dengan sejuta sejarah

2 comments:

saifurroyya mengatakan...

Kudus Kota Santri Dengan Banyaknya Kyai dan Santri ...

cinta siti mengatakan...

Here we will share 10 of the smallest cities in Indonesia, is said to be small because the area owned by.
togel singapura

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com