MENUJU KEHIDUPAN ABADI



Oleh : Ustadzah Latifah Munawaroh,MA


Nada dering di hp ku terdengar samar, tanda sms masuk. Sms dari jauh sana, aku baca dan baca lagi. Termenung, kaget, nyaris tak percaya. Ku ulang lagi membacanya, hingga akhirnya hanya rasa hampa, sedih dan air mata menyertainya. Pak Lek, yang dikabarkan beberapa hari lalu masuk RS, telah wafat menyusul kedua orangtuanya, mbah putrid an mbah kakung, menyusul kedua kakaknya; pakdhe dan ummiku. Innalillah wa inna ilaihi Rajiun. Hanya kalimat itu yang dapat keluar dari bibir ini, bersama bongkahan memori masa lalu bersamanya. Masa ketika aku masih kecil, ketika aku bertandang ke rumahnya, sambutan hangat dan sapaan khas selalu menghampiriku. Bahkan setelah aku menikahpun, beliau masih menyambutku dengan penuh keramahan dan melakukanku seperti keponakannya yang masih kecil. Cuti terakhir, cuti tahun lalu berarti pertemuan terakhir ku dengan nya. Dan cuti yang akan datang, sudah tentu sambutan dan sapaan khas itu hanya akan menjadi kenangan sendiri antara aku dan dirinya. Allah. Lirihan penguatan, aduan kelemahan diri ini hanya pada Allah. Innaa Lillaah. Diri kita memang kepunyaan Allah, Allah akan mengambilnya kapan saja dan dimana saja Ia kehendaki. Allahummaghfirlahum warhamhum wa'aafihim wa'fuanhum. Ya Allah, ampuni mereka, sayangi mereka, dan berikan maaf kepada mereka. Aamin.


Jika teringat kejadian itu, mengingatkan aku akan ayat ke 34 dari surat Luqman, ayat yang merupakan kurikulum pelajaran Pendidikan Islam ketika saya SMA, juga kurikulum hafalan waktu itu. Menegaskan bahwa memang Allahlah yang mempunyai ilmu tentang itu.

"Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui [dengan pasti] apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal"

Kita tiada sedikitpun dikasih tau kapan kita meninggal. Pun tidak ada yang menjamin bahwa kematian akan menghampiri siapa saja yang sudah tua usianya. Kita yang muda pun juga belum tentu bahwa kita masih diberi kehidupan yang lama. Betapa banyak teman-teman kita yang waktu-waktu lalu bersama kita, bercanda dan tertawa sementara sekarang sudah mendahului kita bertemu dengan Rabbul 'aalamin. Tiada yang menjamin pula, bahwa kematian itu harus didahului sebab entah sakit, ataupun kecelakaan. Betapa banyak orang yang kematian menghampiri mereka secara tiba-tiba, tanpa sebab, tanpa pendahuluan. Kita pun tercegang dan kaget mendengarnya. Bisa jadi, kita orang-orang yang masih muda, terlihat lebih kuat, lebih sehat, akan lebih dahulu dipanggilNya daripada mereka yang sudah berusia senja. Memang, usia senja merupakan salah satu tanda mendekatnya ajal, tapi tidak berarti bahwa maut tidak pernah menjemput mereka yang masih muda.
Maut adalah rahasia Allah. Beberapa kalimat itu merupakan inti dari semua. Rahasia yang hanya Allah simpan dalam Ilmunya. Tetapi kita yakin, bahwa yang hidup akan mati, tiada yang kekal di dalamnya kecuali hanya Allah yang Maha Kekal, Maha Abadi.
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ
Setiap jiwa yang hidup akan merasakan mati. Petikan ayat dalam Al Qur'an dengan redaksi seperti itu berulang sebanyak tiga kali dalam Al Qur'an.

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (QS. Ali Imran: 185)

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan [yang sebenar-benarnya]. Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. (QS. Al Anbiya': 35)
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan. (QS. Al Ankabut: 57)

Belum lagi ayat-ayat dengan redaksi lain, yang saling menguatkan dengan makna yang serupa, bahwa kematian adalah sesuatu yang haq dan tiada bisa diragukan didalamnya. Bahkan fir'aunpun yang mendakwa sebagai tuhan dengan perkataannya yang masyhur: akulah tuhan kalian tertinggi pun mati tenggelam. Anak Nabi Nuh, mengira bahwa gunung tinggi bisa menyelematkannya pun akhirnya mati ditelan air. Gunung yang ia rasa dapat menyelematkannya ternyata tidak bisa menjawab permintaanya, karena ajal yang telah Allah tetapkan sudah datang.
"Katakanlah: Sesungguhnya kematian yang kalian lari darinya akan menemui kalian, dan kalian akan dikembalikan kepada Allah…." (QS. Al Jum'at:8)
Dan karena kita sebagai makhluq, makhluq adalah salah satu sifatnya fana, tidak kekal, maka niscaya kita semua akan mati, hanya saja kapan dan dimana, inilah yang masih majhul bagi kita. Hal majhul ini tentunya membawa hikmah yang agung bagi kita. Persiapan. Satu kata dalam menyambutnya, persiapan. Persiapan jika suatu saat kita dipanggil oleh Allah.

Bagaimana Selayaknya?

“Perbanyaklah mengingat kematian, sebab ia mampu membersihkan dosa-dosa, dan menjauhkan diri dari kesenangan duniawi.” Hadits Riwayat Ibnu Abid Dunya dengan sanad dari dari Anas bin Malik ini menegaskan kepada kita tentang mengingat kematian, tidak hanya mengingat saja, tetapi memberbanyak dari mengingatnya.
Rasulullah pernah ditanya oleh para sahabat tentang siapa “orang-orang yang beruntung.” Maka Rasul menjawab, “Orang yang paling banyak ingat mati, paling baik dalam persiapan menyambut kematian. Merekalah orang-orang yang beruntung, dimana mereka pergi (meninggal) dengan membawa kemuliaan di dunia dan akhirat.” (HR. Ibnu Majah). Sedangkan sabdanya yang lain: “orang cerdas yaitu orang yang mengingat kematian dan bersiap siap untuknya”. Di dalam mengingat kematian, akan banyak faidah yang dipetik; bersiap sedia kapan saja dan dimana saja, tidak memperpanjang angan-angan di dunia, tidak bersifat tamak akan dunia dan jabatan, takut akan berbuat dosa karena ujungnya akan mati, dan sederet kebaikan ukhrowi akan dapat digapai dari mengingat kematian. Seperti yang disebutkan oleh Qurthubi, dalam kitabnya At Tadzkirah bi umuril mauta wal akhirat, seorang perempuan mengeluh kepada Aisyah tentang keras hatinya, lalu Aisyah Rha berkata: perbanyaklah mengingat kematian, niscaya hatimu akan menjadi lembut. Lalu ia melakukannya, dan terasa lembut hatinya. Dalam kitab yang sama, Ad Daqqaq berkata: barang siapa yang memperbanyak mengingat kematian, ia akan dimuliakan dengan tiga hal: menyegerakan taubah, hati yang qana’ah, dan giat ibadah. Sebaliknya, siapa yang lupa mengingat mati, maka ia akan melambat-lambatkan taubat, tidak ridho dengan kecukupan yang ia miliki, dan ibadahpun akan malas.

Para generasi salaf sholih mengajarkan kepada kita tentang hal ini. Umar bin Abdul Aziz, diriwayatkan, beliau mengumpulkan para ulama dalam sebuah majlis, mereka saling mengingatkan kematian, hari qiyamat, dan hal-hal tentang akhirat, hingga mereka menangis seakan ada jenazah di antara mereka. Tersebut pula Ats Tsaury, seorang alim ulama, jika diingatkan kepadanya tentang kematian, berhari-hari ia tidak dapat memberikan manfaat pada orang lain. Jika ditanyakan kepadanya sebuah soal ataupun masalah, beliau menjawab: aku tidak tahu, aku tidak tahu.

Kematian, oleh para ulama’ disebut juga dengan Qiyamat kecil. Siapa yang mati, maka qiyamat baginya telah mulai. Sebagaimana lafal kematian jika disebut, akan langsung mengingatkan kita kepada kubur. Sementara Rasul pernah berpesan yang terekam dalam shohih Muslim: “..Berziarahlah kubur, sesungguhnya ia dapat mengingatkan kalian dengan kematian”. Bagaimana tidak, Pemandangan kuburpun telah membuat seorang sahabat selevel Utsman bin Affan menjadi terisak-isak. Seorang sahabat yang telah dijamin surga, seorang sahabat yang Rasulullah pernah bersabda tentangnya: “tiada membahayakan bagi usman apa yang dilakukannya setelah ini”, tanda jaminan surga baginya. Tapi ia tak bisa menahan air mata melihat kubur di hadapannya. Sehingga para sahabat bertanya tentang sebabnya. Dan ia berkata bahwa Rasul pernah bersabda: Sesungguhnya kubur adalah rumah pertama dari rumah diakhirat, siapa yang selamat didalamnya maka apa yang selepasnya lebih mudah baginya, apabila dia tidak selamat dalamnya apa yang selepasnya lebih buruk darinya". (HR. Ibnu Majah)

Kubur, adalah rumah pertama kita di akhirat. Melihat kubur, akan mengingatkan kita kepada kematian. Bentuk balok kecil, dimana kita semua akan "ditidurkan" di sana. Semua saudara dan handai tolan pergi setelah mereka mengubur kita dengan tanah. Akankah kita dapat hidup di sana dengan enak? Ataukah kegelapan di atas kegelapan juga himpitan serta gencatan tanah yang membersamai kita?. Nas'aullahas salamah. Kita memohon kepada Allah keselamatan.

Termasuk kesempurnaan iman kepada akhirat yaitu beriman terhadap adanya kematian juga hal-hal yang terkait dengan kematian. Detik-detik menjelang kematian, adalah detik-detik yang cukup menegangkan. Detik-detik dimana Malaikat maut datang. “Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya". (QS. Al An’am: 61).

Jika ia seorang yang mukmin, maka malaikat maut akan datang dalam bentuk yang bagus, sedangkan ia akan mendatangi seorang yang kafir ataupun munafiq dalam bentuk yang sangat menakutkan. Dalam hadits panjang  dari Bara’ bin Azib riwayat Hakim yang telah dishahihkan oleh Albani dan Ibnul Qoyyim, bahwa Rasul bersabda: “sesungguhnya seorang mukmin jika telah putus dengan dunia, dan bersiap menuju akhirat, akan datang kepadanya malaikat dari langit, bermuka putih,muka mereka ibarat matahari, mereka membawa kafan dari kafan surga, dan minyak wangi dari surga, hingga mereka duduk di dekatnya, lalu datang malaikat maut, dan duduk di dekat kepalanya dan berkata: wahai jiwa yang baik (dalam riwayat jiwa yang tenang), keluarlah kau kembali kepada ampunan Allah dan ridhoNya. Lalu jiwa itu keluar mengalir seperti air yang mengalir dari botol .... dan sesungguhnya seorang kafir (dalam riwayat seorang yang fajir) jika telah putus dari dunia dan bersiap menuju akhirat, akan datang kepada mereka para malaikat bermuka hitam dan kejam, membawa kain dari neraka, mereka duduk di dekatnya, lalu datang malaikat maut duduk di dekat kepalanya dan berkata: wahai jiwa yang busuk, keluarlah dan kembali kepada murkaNya. Nyawa dicabut seperti halnya dicabutnya duri-duri dari kain wol yang basah”. Kondisi detik-detik ini digambarkan juga oleh ayat Al Qur’an surat Fussilat: 30, "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka [dengan mengatakan]: "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan [memperoleh] surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu".  

Sedangkan kondisi seorang kafir digambarkan pula oleh  Al Anfal: 50-51, "Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka [dan berkata]: "Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar", [tentulah kamu akan merasa ngeri]. Demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-Nya". Apa yang dirasakan para calon mayyit ini tentu kita tidak bisa melihatnya, walaupun dapat terlihat sedikit bekas ataupun tanda-tandanya. Allah berfirman: "Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu. Tetapi kamu tidak melihat (QS. Al Waqiah: 83-85).

Pada waktu detik-detik kematian ini pun semua orang berharap supaya dapat kembali lagi ke  dunia. Yang kafir berharap supaya kembali dunia untuk menjadi muslim, yang suka maksiyat ingin kembali di dunia supaya taubat, seperti yang diceritakan oleh ayat 99-100 dari surat Al Mukminun: "[Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu], hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: "Ya Tuhanku kembalikanlah aku [ke dunia] agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan". Merekapun ingin bertaubat pada detik-detik itu, tapi apalah guna taubat. Karena taubat waktu detik-detik ketika nyawa sudah ditenggorokan tidak akan diterima.

Belum lagi kematian juga membawa sakaratul maut yang sakit, sakit sakaratul maut ini dirasakan lebih dahsyat dan lebih sakit pada jiwa yang kafir lebih dari jiwa mukmin. Dalam shohih Bukhori, Aisyah juga menegaskan tentang rasa sakit yang diderita oleh Rasulullah pada waktu akhir-akhir hayat beliau menghadapi sakaratul maut.  Ya Robb, semoga Kau mudahkan kami dalam menghadapi sakaratul maut.

Kembali kepada masalah Kubur, dimana Rasulullah pernah menyifatinya dengan pemandangan paling menakutkan, dan tiada pemandangan yang lebih menakutkan dari kubur. Kubur, selain gelap pada asalnya, seperti yang diceritakan oleh Bukhori bahwa suatu ketika telah wafat seorang wanita yang biasa membersihkan masjid pada masa Rasul, suatu ketika Rasulullah mencari-carinya, karena sudah tidak bertemu lagi. Para sahabat lalu memberi tahu kepadanya bahwa ia telah meninggal pada malam hari, dan mereka tidak ingin mengganggu nabi dengan membangunkannya, beliaupun meminta kepada para sahabat untuk menunjukkan kuburnya, hingga beliau mensholatinya, lalu bersabda: “sesungguhnya kuburan ini gelap bagi penghuninya, lalu Allah menjadikan cahaya di dalamnya karena sholatku atasnya”.

Gencetan dalam kubur merupakan salah satu kondisi kubur . Gencetan yang akan dirasakan oleh semuanya, baik kecil ataupun besar, orang sholih ataupun sebaliknya. Dalam riwayat Nasa’i dari Ibnu Umar, Rasul bersabda: “ini lah seorang yang pada waktu wafatnya goncang Arsy nya Allah, dibukakan baginya pintu-pintu langit, dan 70 ribu malaikat ikut menyaksikan jenazahnya, kuburpun ikut menggencatnya lalu ia (Sa’ad bin Muadz) dapat selamat”. Riwayat Ahmad, Rasul bersabda: “sesungguhnya kubur  punya gencetan, jika ada yang selamat darinya, tentu Saad bin Muadz lah orangnya”.

Disamping ada fitnah membersamai seseorang di kubur, dengan datangnya malaikat yang disebut dengan Mungkar Nakir yang akan bertanya tentang agama, dan nabi seseorang. Seorang mukmin akan diberi keteguhan jawaban, sebagaimana yang ditetapkan ayat 27, surat Ibrahim; “Allah meneguhkan [iman] orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki"

Adanya adzab kubur pun juga merupakan salah satu fitnah yang lain. Pensyarah buku aqidah Thahawiyah menguatkan; “dan ketahuilah bahwa adzab kubur adalah sesuatu yang haq. Dan bahwa semua yang mati dan dia berhak mendapat adzab maka ia akan mendapatkannya, dikubur ataupun tidak dikubur, dimakan hewab buas atau terbakar hingga menjadi abu sekalipun dan telah disebar-sebar di udara, ataupun mati tenggelam. Adzab tersebut akan sampai di ruh dan badannya”. Ini adalah aqidah kita, walaupun tidak diberitahu bagaimana semua itu terjadi. Karena tentang bagaimana, hanya Allah yang tau. Sebagaimana ada adzab kubur, maka disanapun akan ada kenikmatan bagi yang berhak mendapatkannya. Diantara kenikmatannya yaitu ia diberi baju dari surga, dilihatkannya pemandangan surga,  juga dilapangkan kuburnya dan diberi cahaya.  Diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Abu Hurairah bahwa rasulullah memberi tahu bahwa dua malaikat berkata kepada sorang hamba di kubur setelah ia dapat menjawab pertanyaan dengan baik: “kita tau bahwa kamu akan dapat menjawabnya, kemudian dilapangkan kuburnya hingga 70 hasta, dan diberi cahaya. Lalu mereka berkata: tidurlah. Ia berkata: aku mau pulang kepada keluargaku supaya bisa kasih tau kepada mereka. Mereka berkata: tidurlah seperti tidurnya pengantin... “ adapun kepada orang munafiq ataupun kafir, mereka berkata: “kita tahu bahwa kamu akan menjawabnya dengan jawaban seperti ini. Dikatakan kepada bumi: terkamlah ia, hingga bumi akhirnya menerkamnya dan hancur berkeping-keping tulangnya, ia senantiasa dalam adzab hingga Allah bangkitkan pada hari qiyamat”.

Apa saja yang dapat menyelematkan dari siksa kubur?

Dari sini jelas sekali, dan lebih mempertebal keimanan kita bahwa semua yang berjiwa akan merasakan kematian, berikut sakaratul maut. Disamping keimanan bahwa akan ada kenikmatan ataupun adzab di kubur bagi orang-orang berhak mendapatkannya. Dari sini penting sekali untuk menjauhi hal-hal yang dapat mendatangkan siksa di kubur. Nah, apa sajakah hal-hal yang dapat menjauhkan seseorang dari mendapatkan siksa di kubur?.  Secara umum, sebab-sebabnya yaitu karena kejahilan terhadap hak-hak allah dan menyiakan segala perintah Nya juga tidak menjauhi larangannya.

Adapun terkait tentang hal-hal yang dapat menyelamatkan dari fitnah dan siksa kubur, yaitu mereka yang selalu siap sedia menyambut kematian, bersiap-siap untuk bertemu dengan Nya, hingga datang maut secara tiba-tiba ia tidak menyesal, pun tidak gigit jari.  Menjadikan kematian sebagai guru dan obat yang paling ampuh ketika di dunia ini. Bagaimana mungkin seseorang akan korupsi dan manipulasi jika ia ingat bahwa di kemudian hari ini, harta yang ia dapatkan dari korupsi tidak akan bermanfaat apa-apa baginya. Akankah seseorang takabbur di dunia fana ini jika pada akhirnya ia teringat bahwa tempat kembalinya yaitu kubur yang sangat sempit?!.

Berdoa memohon perlindungan dari fitnah kubur dan adzabnya merupakan hal penting yang diajarkan oleh Rasulullah melalui sabdanya, riwayat Abu Hurairah yang dikekalkan oleh Muslim; "Jika salah seorang dari kalian selesai tasyahud (dalam sholat), maka hendaklah ia membaca:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ
Artinya: ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari siksa jahannam, dari adzab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dari jeleknya fitnah masih Ad dajjal.

Sudah selayaknya, bagi kita semua untuk menghafal doa ini dan mengamalkannya dalam akhir sholat kita, dengan berharap supaya Allah menyelamatkan kita dari semua. Aamiin.


1 comments:

Rachmat Kiki mengatakan...

amin... pastinya semua itu kembali pada sang maha pencipta ya :-)

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com