Ayah Pengokoh Shalat Malam



Shalat Malam (Qiyamul lail) adalah amal ibadah yang sangat penting dan dianjurkan. Akan tetapi disayangkan kebanyakan kaum muslimin meninggalkan shalat malam yang berarti menyia-nyiakan keutamaan yang telah Allah sediakan karena malas atau tergoda dengan gemerlapnya dunia. Pemahaman ilmu agama sangat penting dikuasai oleh seorang ayah karena anak-anaknya akan ikut segala tabiat yang dimiliki oleh seorang ayah. Termasuk memahami syariat shalat malam (Tahajud).

Hukum shalat Malam adalah sunnah muakkad, waktunya adalah setelah shalat isya sampai dengan sebelum waktu shalat shubuh (fajr). Akan tetapi waktu yang paling utama adalah sepertiga malam yang terakhir.

Rasulullah SAW bersabda: “ Shalat malam adalah 2 rakaat (salam). Apabila salah seorang di antara kamu khawatir akan datangnya waktu subuh, hendaklah dia shalat 1 rakaat sebagai witir baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Seandainya seorang ayah membiasakan anak-anak sholat malam sejak kecil maka ketika dewasa insya Allah akan lebih mudah melaksanakannya.
Begitu pentingnya shalat malam ini Allah SWT berfirman kepada Nabi SAW.:
“Hai orang yang berselimut, bangunlah pada sebagian malam (untuk shalat), separuhnya atau kurangi atau lebihi sedikit dari itu. Dan bacalah Al-Quran dengan tartil.” (Al-Muzzammil: 1-4)



Seorang wartawan sebuah media pernah bertanya kepada seseorang yang sukses dalam berbisnis. Ia bertanya,” Kunci apa yang membuat anda berhasil dalam bisnis ini?”
Sambil berpikir dan diam sebentar  dia menjawab pertanyaan wartawan tersebut, “ Saya sendiri tidak tahu hal mana yang menjadikan saya sukses dalam bisnis ini. Memang saya merasakan kemudahan dalam kesuksesan ini. Ada satu hal yang ayah ajarkan kepada saya sejak kecil, yaitu shalat malam. Saya masih ingat ayah sering mengajak saya dan adik-adik ketika masa sulit.”

Ayah orang sukses ini adalah pedagang di pasar yang terkadang untung dan terkadang rugi. Terkadang dagangannya laris dan terkadang sepi tidak ada yang membeli. Terkadang bahkan terbelit utang yang jatuh tempo dan ibunyapun harus mencari uang pinjaman untuk menutup utang yang sudah jatuh tempo tersebut.
Orang itu kembali bercerita,” Kami sekeluarga bingung dan menangis dalam doa-doa malam kami. Entah bagaimana, kami bisa bertahan sampai saat ini. Sekarang bahkan anak-anak ayah menjadi orang yang cukup sukses. Anak-anaknya  selalu diajak untuk memahami persoalan yang sedang dihadapi oleh keluarga. Diajak untuk menjadi bagian dari pemecah masalah, walaupun mereka masih kecil-kecil.
Shalat malam disyariatkan oleh Allah untuk membuat mental kita tegar dalam menghadapi tantangan hidup yang dahsyat. Dengan shalat malam, kedahsyatan hidup dapat dihadapi dengan persiapan yang lebih dahsyat. Sebagai seorang pemimpin keluarga, ayah harus menjaga hubungan yang kuat dengan Allah.

          Shalat malam merupakan salah satu sarana seorang ayah dan anaknya untuk mendekatkan diri kepada Allah, untuk meringankan kesalahan-kesalahan, dan mencegah bencana yang akan menimpa. Sebagaimana sabda Nabi SAW :
“ Lakukanlah shalat malam, karena itu adalah tradisi orang-orang saleh sebelum kalian, sarana mendekatkan diri kepada Allah, pencegah dari perbuatan dosa, penghapus kesalahan, dan pencegah segala penyakit dari tubuh.”
Memberikan pemahaman kepada anak tentang keutamaan shalat Malam adalah sangat penting, sebagaimana ketika Rasulullah SAW menjelaskan kepada Aisyah radhiyallahu anha sebagai wujud syukur dari seorang hamba kepada Khaliqnya.
Aisyha r.a. berkata:
“Bila shalat, Rasulullah berdiri hingga kaki beliau bengkak. Aisyah berkata,” Wahai Rasulullah, kenapa engkau melakukan ini padahal Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang kemudian?  Beliau menjawab, “ Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur?” (HR. Muslim)
Keutamaan shalat malam telah dijelaskan oleh Rasulullah SAW seperti yang pernah diceritakan oleh sahabat Abdullah bin Salam r.a. berikut ini :
Pada waktu Rasulullah tiba di Madinah, orang-orang menyambut dengan berkata,”Rasulullah tiba! Rasulullah tiba! Begitulah suara teriakan terdengar. Akupun datang bersama banyak orang karena ingin melihat beliau. Setelah bisa melihat beliau secara jelas, aku tahu bahwa wajah beliau bukanlah wajah pendusta. Sabda beliau yang pertama kali aku dengar adalah,
“ Wahai manusia, sebarkan salam, berilah makan, sambunglah kekerabatan (silaturrahim), dan shalatlah disaat manusia terlelap tidur pada saat malam niscaya engkau masuk surga, kampung keselamatan.” (HR. Ibnu Majah)
“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram, bulannya Allah. Sedangkan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim)
Bahkan keasyikan Rasulullah dalam membaca Al-Quran di saat shalat malam dapat kita lihat dari riwayat Abu Dzar ketika menjadi makmum shalat Rasulullah berikut ini :
Suatu ketika Abu Dzar Al-Ghifari melihat Rasulullah shalat malam. Iapun segera bermakmum kepadanya. Pada rakaat pertama, Rasulullah membaca surah Al-Baqarah dari ayat pertama. Beliau terus membacanya sampai seratusan ayat.“Mungkin beliau akan sujud pada ayat yang ke dua ratus,” demikian pikir Abu Dzar. Ketika berada di ayat 200 dan ada jeda berhenti, Abu Dzar mengira Rasulullah selesai membaca surah Al-Baqarah dan ia bersiap untuk ruku’. Ternyata Rasulullah meneruskan bacaannya. Maka Abu Dzar membatalkan ruku’nya.“ Mungkin beliau akan ruku’ setelah selesai membaca surah Al-Baqarah,” demikian pikir Abu Dzar berikutnya. Setelah surah Al-Baqarah selesai dibaca (286 ayat), Abu Dzar pun kembali bersiap untuk ruku’, ternyata Rasulullah meneruskan membaca surah Ali Imran. Maka Abu Dzar membatalkan ruku’nya. “ Mungkin beliau akan ruku’ setelah selesai membaca surah Ali Imran,” pikir Abu Dzar kembali. Maka ketika Rasul selesai membaca surah Ali Imran (200 ayat), Abu Dzar kembali bersiap untuk ruku’. Ternyata Rasul meneruskan membaca surah An-Nisaa. Akhirnya setelah surah An-Nisaa selesai dibaca (176 ayat), Rasul bertakbir lalu ruku’. Maka Abu Dzar mengikutinya. “ Dan ruku’nya beliau hampir sama lamanya dengan berdirinya,” ungkap Abu Dzar.

Subhanallah, di rakaat pertama tersebut Rasulullah SAW membaca 762 ayat Al-Quran Al-Karim. Demikianlah gambaran cinta Rasulullah pada shalat malam, sebagai manifestasi cintanya kepada Rabbnya, Allah Azza wa Jalla.

Sebagai seorang ayah, bekal shalat malam (tahajud) adalah sangat penting. Membiasakan shalat malam bersama dengan anak dan isteri juga merupakan pembiasaan yang akan membentuk pribadi-pribadi yang tangguh, yang mempunyai hubungan yang dekat dengan Rabb dan RasulNya. Seseorang yang memiliki kekuatan ruhiyah yang baik akan dengan cepat merespon keadaan yang tidak baik di sekelilingnya. Dia akan memiliki sensitivitas tinggi terhadap apa yang menimpa orang lain. Kemudian melakukan usaha-usaha perbaikan agar dirinya tidak ikut binasa karena keadaan yang buruk itu.

(Mochamad Arif Santoso) Dikutip Dari Sumber : Ayah Juara - 7 Hari menjadi Ayah Qur’ani, oleh Dr. Muhammad Yusuf  Efendi) 

0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com