BILAL BIN RABAH


Muadzdzin Rasulullah, Lambang persamaan derajat manusia
.
Nama lengkapnya Bilal bin Rabah Al-Habasyi. Ia berasal dari negeri Habasyah, sekarang Ethiopia. Ia biasa dipanggil Abu Abdillah dan digelari Muadzdzin Ar-Rasul. Ia seorang Habsy dari golongan orang berkulit hitam. Taqdir telah membawa nasibnya menjadi budak dari Bani Jumah di kota Mekah karena ibunya adalah seorang hamba sahaya (budak) milik Umayyah bin Khalaf dari Bani Jumah.
Sebelum berislam, Bilal tidak lebih dari seorang budak belian, yang menggembalakan unta milik tuannya dengan imbalan dua genggam kurma. Kehidupannya tidak berbeda dengan budak biasa, tidak berdaya, serta tidak memiliki suatu hak pun dari hidupnya. Hari-harinya berlalu secara rutin tapi gersang, tidak memiliki sesuatu pada hari itu, tidak pula menaruh harapan pada hari esok.
Dan berita-berita mengenai Muhammad SAW. telah mulai sampai ketelinga Bilal, ketika orang-orang Mekah menyampaikannya dari mulut ke mulut, juga ketika mendengar obrolan Umayah bin Khalaf majikannya bersama tetamunya yang penuh dengan amarah, tuduhan dan kebencian. Didengarnya pula mereka ta’jub dengan ajaran yang dibawa oleh Muhammad SAW.
Pada suatu hari, Bilal bin Rabah mendapatkan Rasulullah SAW. dan menyatakan keislamannya. Tidak lama kemudian berita rahasia tentang keislamannya beredar dan diketahui oleh tuannya yang selama ini sombong dan congkak. Ia menganggap keislaman seorang hambanya sebagai tamparan pahit yang menghina dan menjatuhkan kehormatannya. Berkali-kali Umayyah bin Khalaf menyiksa dengan kejam dan memintanya agar meninggalkan agama yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Siksaan ini diulanginya setiap hari. Namun, Bilal tetap teguh pendirian. Ia selalu mengucapkan, "Ahad-Ahad." Ia menolak mengucapkan kata kufur (mengingkari Allah). Hingga suatu hari Bilal pun dibawa ke padang pasir untuk disiksa. Sementara Umayah menyiksanya, tiba-tiba datanglah Abu Bakar Shiddiq, serunya: “Apakah kalian akan membunuh seorang laki-laki karena mengatakan bahwa Tuhanku ialah Allah?!” Kemudian katanya kepada Umayyah bin Khalaf: “Terimalah ini untuk tebusannya, lebih tinggi dari harganya, dan bebaskan ia…!”
Umayah yang telah berputus asa akan dapat menundukkan Bilal akhirnya menjualnya dan membebaskannya demi melihat keuntungan yang besar tersebut. Kemudian Abu Bakar dan Bilal pergi menemui Rasulullah dan menyampaikan berita gembira tentang kebebasannya. Alloh telah menjadikan Bilal sebagai contoh bagi ummat manusia, bahwa hitamnya warna kulit dan perbudakan sekali-kali tidak menjadi penghalang untuk mencapai kebesaran jiwa, asal ia beriman dan taat kepada Tuhannya serta memegang teguh haq-haqnya. Bilal telah memberikan pelajaran kepada orang-orang yang semasa dengannya, juga bagi orang–orang di segala masa, bagi orang-orang yang seagama dengannya bahkan bagi pengikut agama lain suatu pelajaran berharga yang menjelaskan bahwa kemerdekaan jiwa dan kebebasan nurani tak dapat dibeli dengan emas separuh bumi, atau dengan siksaan bagaimanapun dahsyatnya.
Setelah Rasulullah SAW. bersama kaum muslimin hijrah dan menetap di Madinah, beliaupun mensyari’atkan adzan untuk melakukan shalat. Pada hari itu pilihan Rasulullah jatuh atas diri Bilal. Bilal melanjutkan hidupnya bersama Rasulullah SAW. dan ikut mengambil bagian dalam semua perjuangan bersenjata yang dialaminya. Ia tetap menjadi muadzdzin. Sikapnya tidak berubah, tetap seperti biasa, mulia dan besar hati, selalu memandang dirinya tidak lebih dari seorang Habsy yang kemarin menjadi budak belian, hingga Rasulullah SAW. wafat dan kekhalifahan dipegang oleh Abu Bakar As-Shiddiq. Adzannya yang terakhir, ialah ketika Umar sebagai Amirul mu’minin datang ke Syiria.(Ummi Hukma)

0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com