HUTANG, BERHATI-HATILAH!



"Cara Mudah Dapat Hutang, hub: xxxxxxxx", "Dapatkan Hutang Kontan 100 Kalilipat Gaji" dan iklan yang sejenisnya mungkin pernah atau bahkan sering kita lihat di jalan-jalan. Berhutang pada masa sekarang yang dipermudah caranya, khususnya oleh institusi keuangan semacam bank dan lembaga finansial yang lainnya. Mereka dengan gencar mengajak konsumen dan menawari dengan tanpa jemu kepada kita untuk berhutang. Bagaimanakah Islam memandang hutang, dan apakah adab-adab yang seharusnya seorang muslim jaga di kala dalam kondisi terpaksa harus berhutang?.

Perkara hutang piutang dalam agama Islam merupakan perkara yang sangat penting dan sangat diperhatikan dalam Islam. Hutang piutang merupakan salah satu bab Muamalat dalam fiqih Islam, yang disebut "Al Qordlu". Secara bahasa ia berarti Al-Qath’u yang berarti memotong. Maksudnya si pemilik harta memotong hartanya. Secara istilah ia adalah "menyerahkan harta (uang) sebagai bentuk kasih sayang kepada siapa saja yang akan memanfaatkannya dan dia akan mengembalikannya (pada suatu saat) sesuai dengan padanannya".

Berlindung Dari Hutang
"Membicarakan tentang hal hutang ini ada riwayat dari bunda Aisyah Rha yang diabadikan dalam shohih Bukhori Muslim. "Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari azab kubur, dari fitnah Al-Masiih Ad-Dajjaal dan dari fitnah kehidupan dan fitnah kematian. Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari hal-hal yang menyebabkan dosa dan dari berhutang", begitulah bunyi doa Rasulullah yang selalu diucapkan dalam sholatnya. Hingga salah seorang sahabat berkata: "Betapa sering engkau berlindung dari berhutang?". Rasulullah menjawab: “Sesungguhnya seseorang yang (biasa) berhutang, jika dia berbicara maka dia berdusta, jika dia berjanji maka dia mengingkarinya”.
Ini menunjukkan betapa pentingnya masalah hutang, dan tidak boleh disepelekan. Bahkan, gara-gara hutang, seseorang yang meninggal pada masa Rasulullah hampir saja tidak disholati oleh beliau ketika diketahui bahwa si mayyit mempunyai hutang. Bukhori meriwayatkan bahwa suatu ketika ada satu jenazah dihadapkan pada Rasulullah untuk dishalati, beliau bertanya adakah hutang atasnya?. Setelah beliau tahu bahwa ia bebas dari hutang, beliau menshalatinya. Lalu dihadapkan padanya jenazah yang lain, dan beliau bertanya kembali tentang hutang. Ketika dijawab bahwa si jenazah memilik hutang, maka Rasulullah berkata: "Shalatilah saudaramu ini". Abu Qatadah berkata: "Aku yang menanggung hutang tersebut". Dan Rasulullah  pun menyolatinya. Dari sinipun Islam mengajari bagi ahli waris untuk menyelesaikan hutang-hutang si mayyit jika ada, warisan belum boleh dibagi lebih dulu hingga urusan hutang diselesaikan lebih dahulu.
Bahkan lebih jauh lagi, Rasulullah mengajari doa kepada seorang sahabat yang sedang terlilit hutang. Ialah Abu Umamah yang sedang gelisah nan teramat sangat, kebingungan sedang ia hadapi karena hutang yang belum dapat ia bayar juga. Ia terlihat sedang termenung di masjid pada suatu hari karena memikirkan hutangnya. Rasulullah yang melihatnya langsung mengajarinya sebuah doa untuk dibaca pagi dan sore. Yaitu doa: , "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegundahan dan kesedihan dan aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan dan aku berlindung kepada-Mu dari sifat penakut dan bakhil dan aku berlindung kepada-Mu dari lilitan utang dan pemaksaan dari orang lain.” (HR Abu Dawud).

Hutang Boleh-Boleh Saja, Tapi….
Dari hadits-hadits yang telah dicantumkan di atas, tiada satupun yang melarang seseorang untuk berhutang. Dan bahwasanya hutang memang diperbolehkan. Bukankah Rasulullah juga pernah berhutang, dan juga di akhir hayat beliau masih memiliki hutang kepada seorang Yahudi, dan hutang beliau dibayarkan dengan baju besi yang digadaikan kepada orang tersebut, sebagaimana yang diriwayatkan ibunda Aisyah.
Hukum awal hutang ini bisa berubah sesuai kondisi yang ada atau tergantung kepada maksud dari hutang ini. Misalnya jika ada orang yang kondisi terpaksa berhutang, dan pemberi hutang orang yang kaya, maka wajib baginya untuk memberikan hutang padanya. Jika si pemberi hutang tahu, atau dalam perkiraannya dia akan memakai hutang tersebut  pada kemaksiatan atau keharaman maka haram baginya untuk memberikan hutang padanya. Jika misalnya seorang yang berhutang ingin menambah modal buat bisnisnya maka hal ini mubah.
Mengingat begitu pentingnya masalah hutang, maka Islam memberikan rambu-rambu ataupun adab jika memang dalam kondisi membutuhkan untuk berhutang. Rambu-rambu yang mengatur keberlangsungan hutang hingga kembali lagi ke pemiliknya pada waktu yang telah disepakati. Rambu-rambu ini tentu berbeda antara yang berhutang dan yang dihutangi.
Bagi yang berhutang, apakah saja adab dan rambu-rambu yang sangat dianjurkan untuk dijaga?. Di antaranya ialah:
1.     Hendaklah ditulis atau dipersaksikan jika berhutang. Hal ini tentu untuk menjaga hak ataupun harta orang yang dihutangi. Dalam Surat Al Baqarah: 282, Allah memerintahkan hal ini. “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Rabbnya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tidak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil, dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya…". Selain untuk menjaga hak, Allah menjelaskan dalam lanjutan ayat tersebut dengan firmanNya yang berarti: "..Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu…"
2.       Memberikan jaminan ketika berhutang. Jaminan ini dapat berupa harta yang menjadi simpanannya, ataupun berupa barang. Dapat juga berupa piutang yang ia miliki dan menjadi tanggungan orang lain. "Jika kamu dalam perjalanan [dan bermu’amalah tidak secara tunai] sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang [oleh yang berpiutang]". (QS. Al Baqarah: 283).
3.       Membalas dengan kebaikan. Seorang yang telah berhutang kepada orang lain dianjurkan untuk membalas kebaikan orang yang memberikan hutang kepadanya. Tentunya kebaikan ini tidak di awal akad, dan tidak merupakan syarat. Karena jika ia di awal atau menjadi syarat maka hal ini akan jatuh pada praktik riba yang diharamkan. , “Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik dalam pengembalian”, begitulah sabda Nabi yang terabadikan dalam shohih Bukhori ketika beliau suatu ketika mempunyai hutang kepada seseorang (yaitu) seekor unta dengan usia tertentu.orang itupun datang menagihnya. (Maka) beliaupun berkata, “Berikan kepadanya” kemudian mereka mencari yang seusia dengan untanya, akan tetapi mereka tidak menemukan kecuali yang lebih berumur dari untanya. Nabi (pun) berkata : “Berikan kepadanya”, Dia pun menjawab, “Engkau telah menunaikannya dengan lebih. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas dengan setimpal”.
4.       Berniat yang baik ketika berhutang, dan berniat untuk membayar hutang dengan segera. Niat yang baik inilah yang dengannya Allah akan membantu seseorang untuk memudahkan dalam pembayaran hutang. Perhatikan hadits berikut, yang diriwayatkan oleh Bukhori: "Barangsiapa yang mengambil harta orang (berhutang) dengan tujuan untuk membayarnya (mengembalikannya), maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan tunaikan untuknya. Dan barangsiapa mengambilnya untuk menghabiskannya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membinasakannya”. Niat yang tidak baik ketika berhutang juga tidak dibolehkan dan merupakan sebuah kedzoliman, niat yang tidak baik misalnya niat berhutang karena untuk berfoya-foya.
5.       Tidak menunda-nunda pembayaran hutang jika sudah mampu. Inipun merupakan sebuah kedholiman dan berdosa, sesuai dengan hadits "Menunda-nunda hutang bagi yang mampu adalah kedholiman". (HR. Bukhori). Bahkan membayar hutang ini dalam sebuah riwayat Baihaqi lebih didahulukan daripada untuk membayar haji. Tersebutlah seorang sahabat yang datang kepada Rasulullah: "Saya punya hutang, dan saya juga berkewajiban untuk haji". Rasulullah menjawab: "Bayarlah hutangmu".
6.       Jika terjadi keterlambatan dari waktu yang disepakati, maka hendaklah ia memberitahukan kepada yang dihutangi. Tidak sepatutnya ia malah lari, atau malah tidak memberi kabar. Memberi kabar ini termasuk memenuhi hak si pemberi hutang.
7.       Menjadikan hutang sebagai solusi akhir. Tidak berhutang kecuali dalam hal yang benar penting dan membutuhkan.
Adapun bagi pemberi hutang, maka hendaklah ia menjadikan hal ini sebagai ibadah yang berpahala, dimana ia memberi pertolongan kepada saudaranya. Dan barangsiapa yang memberi pertolongan saudaranya di dunia, niscaya Allah akan memberikan pertolongan padanya pada hari qiyamat kelak. Memberikan hutang merupakan suatu amalan mulia dan berpahala. Dari Ibnu mas’ud bahwa Rasulullah bersabda: tiada seorang muslim yang memberikan hutang kepada saudara muslim lainnya  dua kecuali, kecuali baginya pahala shodaqah satu kali. (HR.Ibnu Majah).  Bahkan diriwayatkan, bahwa Abu Darda’ berkata: dua dinar yang aku hutangkan lalu dikembalikan keduanya kepadaku lebih baik daripada aku bersodaqah keduanya. Barangkali karena hal ini akan memberikan manfaat berlipat-lipat, karena uang yang ia hutangkan ketika kembali kepadanya ia dapat memberikan pinjaman ke orang lain lagi, begitupun seterusnya, atau ia dapat me-NOL- kan hutangnya atas si peminjam, yang berarti berpahala plus. Pahala memberikan pinjaman/hutang dan pahala shodaqah.

Seperti halnya Islam menetapkan adab-adab bagi orang yang ingin berhutang, maka di sana ada adab-adab yang seyogyanya dijaga oleh orang yang memberikan pinjaman. Diantaranya yaitu:

1.       Berniat ibadah dan menolong saudara ketika ia memberikan pinjamkan. Menghadirkan pahala-pahala menolong di hatinya, hingga apa yang ia lakukan menjadi sebuah amalan yang sholih dan berbuah pahala di akhirat kelak.
2.       Memberikan keringanan dalam pembayaran kepada orang yang berhutang. Misalnya, membolehkannya untuk membayar kredit dalam waktu tertentu. Hal ini tentunya akan dirasa ringan oleh orang yang berhutang, dan tidak terasa berat. Dapat juga meringankannya dengan mengurangi jumlah hutang, yang tadinya si fulan berhutang padanya 100.000 misalnya, maka ia menguranginya menjadi 90.000.
3.       Hutang yang ia berikan kepada saudaranya tidak boleh mendatangkan manfaat pada permulaan akad. Karena hal ini dapat jatuh pada lingkaran riba. Terdapat kaidah fiqih yang artinya: “Bahwa setiap pinjaman yang mendatangkan manfaat maka itu riba, jika pinjaman itu bersyarat”. Manfaat disini konteksnya luas, dapat berupa uang, seseorang yang meminjamkan 1000 kepada saudaranya, ia memberikan syarat supaya dikembalikan 1500 misalnya. Dan ini dicantumkan di awal akad.  Nah, manfaat ini tidak hanya sebatas uang saja, tetapi lebih dari itu. Misalnya, karena ia telah meminjamkan uang pada si A misalnya, maka ia memberikan syarat supaya menempati rumah si A tanpa uang sewa, memakai kendaraan si A dengan seenaknya sendiri, karena ia merasa telah berbuat jasa kepada si A. Hal ini tidak boleh, karena termasuk bagian dari riba,  selain ia bertolak belakang pada tujuan memberikan hutang itu sendiri, dimana tujuan awal yaitu membantu dan mengasihi orang yang membutuhkan hutang. Tetapi dengan adanya manfaat ini malah justru yang terjadi bukan membantu tetapi menindas dan mendholimi orang yang lemah, na’udzubillah. Tetapi jika manfaat ini diberikan oleh yang berhutang setelah selesainya pembayaran dan tanpa syarat, maka ini boleh bagi pemberi hutang untuk menerimanya. Hadiah juga masuk dalam konteks manfaat. Adapun jika hadiah diberikan sebelum selesainya pembayaran hutang, maka tidak dibolehkan si pemberi hutang untuk mengambilnya kecuali jika hadiah tersebut termasuk dalam bagian pembayaran.
4.       Memberikan keringanan  dalam hal jatuh tempo. Jika seseorang memberikan pinjaman kepada si A, dan dalam akad tertulis bahwa si A akan membayarnya setelah satu tahun lagi  misalnya. Dan ketika datang waktu yang dijanjikan, tetapi ternyata si A belum mempunyai harta untuk membayarnya, maka bagi si peminjam seyogyanya memberikan keringanan dengan memberikan tempo atau kesempatan berikutnya untuk membayar. Terdapat fadhilah ukhrawi bagi mereka yang berbuat seperti ini. Perhatikan hadits riwayat Bukhori berikut ini: Dari Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Suatu hari ada seseorang meninggal. Dikatakan kepadanya (mayit di akhirat nanti). Apa yang engkau perbuat? Dia menjawab: "Aku melakukan transaksi, lalu aku menerima ala kadarnya bagi yang mampu membayar (hutang) dan meringankan bagi orang yang dalam kesulitan. Maka dia diampuni (oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala)".
5.       Selain ada di atas, menghalalkan hutang, juga merupakan akhlaq yang mulia yang dilakukan oleh generasi salafus sholih. Diriwayatkan bahwa Thalhah berhutang kepada Utsman sebanyak lima puluh ribu dirham. Lalu dia keluar menuju masjid dan bertemu dengan Utsman. Thalhah berkata, “Uangmu telah cukup, maka ambillah!”. Namun Utsman menjawab : “Dia untukmu, wahai Abu Muhammad, sebab engkau menjaga muruah (martabat)mu”.

Cerita lain mengisahkan bahwa suatu hari Qais bin Saad bin Ubadah Radhiyallahu ‘anhu merasa bahwa saudara-saudaranya terlambat menjenguknya, lalu dikatakan keadannya : “Mereka malu dengan hutangnya kepadamu”, dia (Qais) pun menjawab, “Celakalah harta, dapat menghalangi saudara untuk menjenguk saudaranya!”, Kemudian dia memerintahkan agar mengumumkan : “Barangsiapa yang mempunyai hutang kepada Qais, maka dia telah lunas”. Sore harinya jenjang rumahnya patah, karena banyaknya orang yang menjenguk. 
Subhanallah, begitu banyak keutamaan ataupun pahala dalam memberikan pinjaman kepada orang lain yang membutuhkan. Membantu saudara yang membutuhkan meminjamkan harta, jangan sampai saudara kita yang membutuhkan malah jatuh di di tangan rentenir, yang kerjanya memang mengambil manfaat dari orang yang berhutang kepadanya. Tidak hanya satu, ataupun dua manfaat, bahkan berlipat-lipat keuntungan yang ia peroleh, dan banyak dari mereka yang menjadikan hal ini sebagai mata pencaharian. Tidak perlu susah bekerja, hanya cukup modal uang untuk dihutangkan kepada yang membutuhkan dengan syarat kembali dalam jumlah yang lebih dengan tempo tertentu, ketika datang tempo dan si peminjam belum dapat membayar, maka keuntungan akan bertambah dan begitu seterusnya. Ini adalah perbuatan yang disayangkan dan tidak dibolehkan dalam Islam. Ini merupakan salah satu bentuk riba yang terlarang. Riba yang mana  pelakunya diancam dengan ancaman yang menakutkan.

Allah menyifati pemakan riba sebagaimana ayat : “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila[175]” (QS al Baqarah:275).
Tidak hanya itu saja, bahkan Allah dan RasulNya akan memerangi mereka yang tetap memakan riba setelah diharamkan. “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang benar benar beriman. Jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya (QS al Baqarah:278-279).
Banyak sekali hadits-hadits yang mengancam tentang riba ini.

Riba dosanya pun melebihi dari zina. Dari Abdullah bin Hanzhalah, Rasulullah bersabda, “Satu dirham uang riba yang dinikmati seseorang dalam keadaan tahu bahwa itu riba dosanya lebih jelek dari pada berzina 36 kali” [HR Ahmad no 22007, dinilai shahih oleh al Albani di Silsilah Shahihah no 1033].

Lebih dahsyat lagi, Allah melaknat riba melalu sabda rasulNya. Dari Jabir, Rasulullah melaknat orang yang memakan riba, nasabah riba, juru tulis dan dua saksi transaksi riba. Nabi bersabda, “Mereka itu sama” [HR Muslim no 4177].
Ibnu Abbas berkata, “Orang yang memakan riba itu akan dibangkitkan pada hari Kiamat dalam keadaan gila tercekik”. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim [Shahih Tafsir Ibnu Katsir]


Dari ayat dan hadits di atas wajib bagi tiap muslim untuk menjauh dari tiap transaksi yang mengandung riba. Semoga Allah berkenan menjauhkan dari kita riba, dan dari lilitan hutang. Aamin. Wallahu A'lam. 

2 comments:

Anonim mengatakan...

Assalamualaikum. Bagaimana hukumnya membeli barang dengan cara kredit ( harga barang cash 1000, kredit harga menjadi 1200 dengan tempo waktu tertentu ) mohon penjelasannya, jazaakallah khairan.

Abu Fadli

Adhe Lia mengatakan...

Terima Kasih Atas Infonya
SEKEDAR INFO
Mau Tahu? banyak Orang Bisa Melunasi Masalah Hutangnya hanya Dengan mengandalkan Internet? Info Selengkapnya

BUKA DISINI
ATAU
KLIK DISINI

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com