Islam di Pakistan


Pakistan, adalah sebuah negara yang terletak Asia Selatan. Berbatasan langsung dengan India di sebelah Timur, Afghanistan dan Iran di Barat, China di timur laut, sebelah Selatan dengan laut Arab.


Pakistan negara ke-6 yang mempunyai penduduk terbanyak di dunia dan negara ke-2 yang mempunyai penduduk beragama Islam terbanyak di dunia setelah Indonesia.  Mayoritas penduduk Pakistan adalah Muslim Sunni.

Pakistan sebenarnya bagian  dari  India yang terpecah menjadi  Pakistan Barat dan Pakistan Timur. Mulanya dikenali sebagai Dominion of Pakistan pada 1947. Kemudian diganti menjadi Republik Islam Pakistan pada 1956. Pakistan Timur sekarang dikenali sebagai Bangladesh

Nama Pakistan berarti tanah yang murni dalam bahasa Urdu maupun bahasa Persia. Nama ini juga kepanjangan dari nama-nama etnis utama yang terdapat di Pakistan yaitu : Punjab, Afgan, KashmIr, Sindh, dan Baluchistan.

Penyebaran Islam di Pakistan (sub Title)

Dari cerita sejarah tentang perkembangan Islam di Pakistan, ternyata pengaruh Islam di Pakistan tidak lepas dari pengaruh Islam yang ada India. Dengan banyak kerajaan Islam di India, secara tidak langsung India berperan dalam hadirnya Islam di Pakistan.

Setelah Khulafaroshidin wafat, penyebaran Islam di Pakistan beralih ke Dinasti Umawiyah (661 M), Dinasti Abbasiyah (750 M), dan Dinasti Usmaniyah (1288 M). Pada masa dinasti inilah, penyebaran Islam sampai ke daratan Asia. Terlebih, setelah berdirinya kerajaan Islam Moghul di India (abad ke-13 hingga abad ke-15 M).

Namun, kuatnya arus imperialisme dan kolonialisme Eropa Barat yang merambah wilayah Timur menjadi titik awal kemunduran dunia Islam di Asia. Hal ini juga berpengaruh terhadap perkembangan Islam di Pakistan. Kelemahan pengawasan Dinasti Usmaniayah tehadap wilayahnya menjadi celah bagi bangsa Eropa untuk memulai ekspansi terhadap negara-negara di Asia.

Perkembangan Islam di Pakistan (subtitle)

Lebih dari 200 tahun Islam tertidur hingga akhirnya muncullah pemrakarsa pembentukan negara Pakistan yang telah jenuh bernaung di bawah kekuasaan Hindu. Sayid Ahmad Khan (1817-1898) merupakan salah satu tokoh perkembangan Islam di Pakistan, bercita-cita untuk mengembalikan ajaran Islam sebagai pedoman hidup.

Pemikiran Sayid Ahmad Khan menjadi sumbu pemicu semangat perjuangan bagi seorang filsuf Muhammad Iqbal (1873-1938). Ia menggunakan Liga Muslim India sebagai media yang menyuarakan pentingnya pengajaran Islam secara kaffah dalam berbagai aspek kehidupan. Tokoh ini menjadi titik awal dalam cerita perkembangan Islam di Pakistan. 

Beliau berpendapat bahwa demokrasi yang ditanamkan oleh kolonial hanyalah bentuk kemenangan sekuler terhadap agama. Dalam pandangan Islam, suatu negara harus berasaskan tauhid, diatur berdasarkan hukum syariat yang ditafsirkan melalui ijtihad, tidak ada jurang pemisah ataupun strata sosial, yang ada hanya keseimbangan antarsemua golongan masyarakat.

Muhammad Ali Jinnah (1876-1948) merealisasikan cita-cita para pendahulunya dengan bertekad bahwa setelah terusirnya kolonial dari Asia Selatan, India harus dibagi berdasarkan perbedaan agama.

Pada 14 Agustus 1947, Inggris menyerahkan kedaulatan bagi Pakistan, Pakistan Timur dan Pakistan Barat. Wilayahnya terpisah oleh India setelah India memperoleh kedaulatan selang sehari pasca kedaulatan Pakistan, 15 Agustus 1947.

Keberhasilan Muhammad Ali Jinnah mendirikan Pakistan mengantarkannya menjadi presiden pertama Republik Islam Pakistan sehingga mendapat julukan Qoid al-Azam (pemimpin besar). Beliau pun menjadikan Islam sebagai landasan negaranya. Meskipun demikian, perjalanan Islam di Pakistan tidak semulus yang diharapkan.

Hingga saat ini, pergolakan ranah politik di Pakistan bergulir dari satu pimpinan ke pimpinan yang lain dengan ambisinya masing-masing. Islam pun hanya dijadikan alat politik, bukan pedoman.

Sekulerisme kembali mencuat pada 1959. Meskipun sejak saat itu paham demokrasi mulai diterapkan, beberapa pergantian pemimpin Pakistan belum membuahkan hasil yang signifikan. Bukan karena kesalahan aturan Islam yang diterapkan di negeri tersebut, melainkan politik yang mereka terapkan tidak relevan dengan Al Quran dan Al Hadist. Hal-hal seperti ini menjadi "saksi bisu" dalam perkembangan Islam di Pakistan.

Namun Citra Pakistan sebagai Negara Islami masih terlihat dari sisi Pendidikan, banyaknya Hafiz Quran berasal dari Pakistan. Hal ini ternyata dipengaruhi oleh system pendidikan Pakistan, dimana pendidikan modern berdampingan dengan pendidikan agama, terutama di madrasah-madrasah dan masjid-masjid yang merupakan swasembada dari masyarakat yang masih peduli dengan penerapan Islam dan semangat untuk mengembalikan Kejayaan Islam. 

Hampir seluruh masjid di Pakistan  menyelenggakan pendidikan informal program Tahfiz Quran untuk anak-anak, dan hampir setiap anak di Pakistan mengikuti program 2 tahun untuk menyelesaikan Tahfiz Quran, dan setelah selesai mereka akan langsung ke jenjang kelas yang lebih tinggi,  masuk kelas 8 atau 9 di sekolah formal.

Madrasah  adalah penyelenggara  tahfiz Quran yang lebih terstruktur, jenjang kurikulum madrasah Pakistan rata-rata ditempuh dalam waktu 8 tahun, yang dimulai dengan bagaimana cara membaca Al Qur’an secara benar dan baik dengan cara melihat ataupun dengan hafalan, kemudian diteruskan dengan mempelajari buku-buku agama seperti hadist, tafsir dan lain-lain.

Di madrasah dipelajari silsilah keilmuan sampai kepada pengarangnya, misalnya belajar hadist, ini riwatnya bisa sampai kepada Rasulullah. Madrasah di Pakistan juga menyediakan biaya hidup  secara gratis, sehingga mereka tidak lagi disibukkan dengan urusan perut, tapi bisa konsentrasi secara penuh hanya untuk menuntut  ilmu.

Keungan madrasah  disokong dari bantuan swadaya masyarakat orang-orang kaya yang sadar tentang misi agama Islam dengan mendermakan sebagian hartanya di jalan Allah dan tidak menggantungkan sama sekali dengan pemerintah alias independent. 

Di dalam madrasah ada doktrin yang sangat kuat untuk mengembalikan kembali kejayaan Islam yang saat ini sedang terpuruk. Oleh karenanya, madrasah–madrasah mengobarkan tiga komponen atau pilar yang harus dipenuhi jika umat Islam mau mendapatkan kembali kejayaannya. 

Pertama: Dirikan madrasah-madrasah tahfiz untuk menjaga nafas al-Qur’an secara benar sesuai dengan ilmu tajwidnya.
Kedua : Dirikan lembaga-lembaga kajian tentang al-Qur’an dan Hadist demi untuk menjaga kemurnian makna keduanya. Mereka memberikan wadahnya dalam sebuah lembaga daurah yang ditempuh dalam 2-3 tahun. Setelah lulus dari daurah ini diharapkan dari mereka mau turun ke lapangan dengan mendakwahkan ilmu-ilmu yang telah mereka timba Ketiga : Kobarkan semangat dakwah, yakni menyebarkan dakwah agama secara langsung ke lapangan dengan menemui umat untuk menjaga amal (perintah) al-Qur’an dan Hadist.


Demikian sekilas perkembangan Islam di Pakistan dan banyaknya Tahfiz Quran berasal dari Pakistan.  Sungguh jika agama Islam diimplementasikan secara kaffah dan syumuliaah (sempurna dan menyeluruh) di Pakistan, tidak menutup kemungkinan akan tecipta baldatun thoyyibatun, negeri yang tentram, aman, dan makmur.(Noor Amin)

0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com