Kisah Tiga Insan (Bagian 2)


Kematian akan datang sewaktu-waktu, Mereka yang sedang sakit seringkali ingat..Tapi kita yang sehat, lebih sering lupa

Written by : Ruli Amirullah

Sinopsis bagian 1:
Vonis kematian yang diberitakan oleh dokter bukan hanya mengguncang Nadia tetapi juga jiwa Irfan, ayah Nadia. Karena setelah setahun kematian istrinya, kini giliran Nadia yang akan meninggalkannya dalam waktu 6 bulan. Nadia begitu terpuruk dan putus asa, dan pada bulan pertama serasa mati sebelum wafatnya, tetapi kemudian Nadia bangkit mempersiapkan kematiannya dengan mengisi sisa hidupnya, melakukan amal ibadah sebaik-baiknya dengan dukungan keluarga besarnya terutama Irfan sang ayah dan Robby , sang suami. Di saat Robby ingin menemani istrinya menghabiskan sisa hidupnya, tuntutan tugas ke luar negeri memanggilnya, Robby telah menginjakkan kakinya di Lagos International airport di Afrika, meninggalkan Nadia berjuang melawan penyakit dan mempersiapkan kematiannya...... 


Beruntung Nadia seorang wanita yang berhati luas. Malah Nadia yang menenangkan bahwa semua akan baik-baik saja selama 7 hari Robby bertugas di Lagos. Robby masih ingat bagaimana dengan mata cerianya Nadia berkata pada saat mengantarkan ke bandara, ‘aku janji gak akan mati dulu sebelum kamu datang, kan masih ada waktu 2 bulan lagi? hehehe…’ Nadia mengucapkan sambil bernada riang dan tersenyum, tapi justru Robby begitu hancur hatinya. Ia memeluk Nadia erat-erat seolah tak ingin pernah melepaskannya lagi. Tapi lagi-lagi saat itu Nadia yang lebih dewasa, melepaskan pelukan Robby dan memberi tahu bahwa ia harus cepat-cepat boarding. Robby menarik nafas panjang mengingat hal itu, ia benar-benar sudah ingin menghubungi Nadia. Tak lama kemudian suara pramugari terdengar, memberi tahu bahwa para penumpang bisa keluar dari pintu depan dan belakang. Robby memilih keluar dari pintu depan. Kakinya sudah benar-benar ingin melangkah. Seharusnya begitu ia keluar dari ruang kedatangan, seseorang dengan membawa papan bertuliskan Mr. ROBBY sudah menyambutnya. Tapi sebelum sampai di hotel, ia ingin membeli kartu ponsel operator setempat dan menghubungi Nadia…

Seseorang menepuk punggungnya. Ia menoleh ke belakang dengan segera. Seorang wanita tua berwajah begitu damai sedang memandangnya dengan lembut,”dari Indonesia?” Ia tersenyum sambil mengangguk, pasti ibu itu menepuk karena melihat dirinya menangis sesenggukan. Matanya masih basah oleh air mata yang tadi sempat mengalir dengan deras. Ia sadar bahwa seharusnya bibirnya bergerak dan mengucapkan satu atau dua patah kata kepada orang tersebut, tapi ia juga sadar bahwa begitu ia mengucapkan sesuatu, pasti tangisnya kembali pecah. Bahkan mungkin bisa lebih berderai dibanding tadi. Ia hanya bisa memandang terdiam. Ibu itu kemudian memeluk dirinya dengan hangat sambil berkata pelan, “menangislah, lepaskan sedih kamu, kamu sedang berada di tempat yang paling tepat untuk mengadu segala hal…” Nadia tak dapat lagi membendung perasaannya. Segala kenangan tiba-tiba hadir dengan cepat, menariknya kemasa lalu.

Ia masih begitu ingat tiba-tiba seseorang dari kantor Robby meneleponnya dan memberi kabar bahwa Robby mengalami musibah di Lagos. Mobil yang akan mengantarkannya ke hotel tertabrak oleh salah satu mobil penjahat yang baru saja melakukan aksi perampokan. Sebenarnya saat kejadian Robby mungkin masih hidup, tapi penjahat itu kemudian melepaskan tembakan membabi buta ke arah mobilnya dengan senapan AK-74 hingga salah satu peluru menembus tangki bensin dan membuatnya meledak berkeping-keping. Sengaja agar menghalangi mobil polisi yang sedang mengejar mereka. Saat itu dipastikan Robby beserta supir yang menjemputnya meninggal dunia. Nadia seperti kembali kehilangan nyawa saat mendengarnya, persis ketika dirinya divonis hanya bisa hidup 6 bulan lagi.

Bulan berikutnya, hidup Nadia kembali dihampiri malaikat maut, tapi bukan untuk mencabut nyawanya melainkan ayahnya. Tiba-tiba saja ayahnya jatuh di kamar mandi dan mengalami pendarahan hebat di kepalanya. Dokter mendiagnosis bahwa ayahnya terkena stroke. Mungkin karena stress yang begitu hebat. Nadia benar-benar hancur. Vonis akan dirinya, kematian Robby suaminya, dan berlanjut pada kematian ayahnya…
Keluarga besar dan sobat-sobatnya bahu membahu menolong semangat Nadia. Tapi tak ada motivator yang lebih hebat dibanding diri sendiri. Karena tak peduli apapun yang orang lain katakan untuk menghibur dan menyemangati Nadia, tetap saja hatinya keras membara. Ia sedih, kecewa bahkan marah.. Marah sejadi-jadinya…

Hingga akhirnya pada suatu waktu ia mendengar surat Ar Rahmaan dilantunkan oleh seseorang saat menjelang subuh kala ia tidak bisa memejamkan matanya sepanjang malam. Kalimat Fa-biayyi alaa'i Rabbi kuma tukadzdzi ban (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?) diulang berkali-kali. Kalimat-kalimat itu seolah merembes perlahan ke relung hatinya yang sempat mengeras. Semakin diulang, semakin masuk… Nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan? Dan seolah suatu kebetulan, kemudian di televisi yang menyiarkan dakwah pagi, seorang ustad berbicara mengenai kehidupan. Ustad itu dengan lembut berkata, “Tahukah kalian apa persamaan dan perbedaanya orang yang telah divonis akan meninggal dan dengan kita yang sehat? Persamaannya adalah, kita semua sama-sama akan mati sewaktu-waktu. Mereka karena penyakit yang dideritanya, sementara kita, tidak  peduli betapa sehatnya, tetap bisa mati sewaktu-waktu karena kecelakaan, bisa karena musibah bencana alam atau yang paling mudahnya kena serangan jantung. Dan mau tahu perbedaannya? Mereka yang divonis akan selalu sadar bahwa mereka akan mati, sehingga mereka seringkali bisa mempersiapkan kematiannya dengan cara-cara indah, memperbanyak pahala, menyebarkan ilmu, menjadi bermanfaat dan sepanjang sisa umurnya akan selalu mengingatNYA. Sementara kita yang sehat ini, sering tidak sadar bahwa kita akan mati. Kita terlena pada kenikmatan dunia, santai ketika berbuat dosa karena menganggap kematian masih lama menghampiri kita..” Saat itu Nadia menangis hebat, bukan karena sedih, kecewa apalagi marah. Tapi karena mendadak ia menyadari bahwa Tuhan sedang memberi karunia terbesar pada dirinya, yaitu kesadaran akan wafat sewaktu-waktu… Ia merasa beruntung telah divonis oleh para dokter, karena dengan itu justru ia selalu ingat akan kematian.

Vonis kematian justru membangkitkan gairahnya untuk menjalani hidup yang terbaik.. Setelah itulah Nadia kembali menyalakan gairah hidupnya. Kembali ia mengajar anak-anak tak mampu, kembali ia bekerja untuk memperoleh uang yang kemudian ia akan pergunakan untuk proyek besarnya memperoleh pahala abadi. Semangatnya itu justru membuat prestasi kerjanya meningkat. Sebagai marketing di sebuah biro perjalanan umrah dan haji, ia berhasil mencapai target, dan karena itu ia berhak atas perjalanan umrah bagi dirinya sendiri. Karena itulah kini ia berada di Masjid Nabawi, Madinah.

Seharusnya bila sesuai dengan perkataan dokter maka ia sudah wafat 2 bulan kemarin. Tapi Tuhan memang diatas segalanya, sampai hari ini ia masih hidup, masih bertahan lebih lama dibanding ayah dan kekasihnya yang lebih dulu wafat. Para dokter menganggap mungkin itu karena semangat dalam dirinya yang begitu kuat. Dengan begitu mungkin ia bisa bertahan sekitar 6 bulan lagi. Entahlah Nadia tak peduli..Karena ia kini memutuskan untuk tetap ingat akan kematian entah dia sakit atau tidak. Sehingga saat sewaktu-waktu malaikat maut muncul di hadapannya, ia bisa tersenyum menyambutnya.. Suara adzan Isya kemudian mengema di seluruh ruang masjid dan juga di seluruh pelosok kota Madinah… ***TamaT*** 

0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com