Tarzan Bakala


Soal bahasa, di Kuwait tidak kalah banyaknya dengan di Indonesia. Di daerah tertentu seperti Mahboula, kita akan lebih mudah mencari orang yang berbahasa Hindi, Tamil atau Urdu karena ditempat tersebut banyak sekali expatriate dari India dan juga Pakistan. Di Haiza - Fahaheel, sebuah apartment yang cukup terkenal dikalangan orang orang Indonesia pekerja MIGAS, terutama karyawan Perusahaan Minyak Cap Manuk, bisa dikatakan Haris (Penjaga Apartment)nya saja bisa bahasa Indonesia karena saking banyaknya warga negara Indonesia yang tinggal di apartment tersebut. Belum lagi kelompok Philipine yang selalu berbahasa Tagalog. Koran lokal Kuwait saja membuat halaman khusus berita berbahasa Tagalog setiap hari tertentu.


Untungnya, kebanyakan orang yang datang ke Kuwait memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang cukup bagus. Ditunjang pula oleh penduduk asli Kuwait yang memang dari kecil sudah terbiasa berbicara dua bahasa, Inggris dan Arab. Jadi secara umum tidak ada masalah berarti untuk hidup dan tinggal di Kuwait. Tetapi ada juga sebagian kecil pendatang dari Bangladesh dan juga negara Arab sekitarnya yang memang benar-benar tidak mengerti sama sekali bahasa Inggris. Umumnya mereka pekerja kasar di pasar-pasar atau warung makan dan bakala (warung serba ada kebutuhan sehari-hari).

Hampir tiap hari saya ketemu mereka terutama kalau harus berkunjung ke apartment kawan, belanja di pasar (Souk) atau sekedar beli kebutuhan sehari hari yang mendadak di bakala. Kalau dengan suami, biasanya suami yang susah payah berbahasa Tarzan. Contohnya seminggu lalu, kita mencoba pesan Mutton Biryani disebuah warung makan kecil, tetapi si pegawai rumah makan baru pertama kali dengar istilah 'Mutton' meskipun di menu makanan yang disodorkan jelas jelas tertulis 'Mutton Biryani'. Ternyata si pegawai buta huruf latin. Solusinya cukup sederhana, sambil menunjuk menu makanan sekaligus meniruka suara kambing, Mbeeeeek...... Mbeeeeek !!!!!!. Langsung tersaji Mutton Biryani di meja.

Suatu saat saya kehabisan telur, anak anak sedang sekolah dan suami sedang ngantor, maka segara diambil langkah darurat, berangkat ke bakala segera sendiri. Mobil VW Merah yang baru saja saya parkir sepulang mengantar anak anak sekolah segera saya kebut kembali ke bakala terdekat. Seperti kebiasaan orang orang di Kuwait, kalau belanja di bakala tidak perlu keluar dari mobil, cukup bunyikan klakson keras-keras beberapa kali Diiiin ...... Diiiinn ....., maka keluarlah seorang pegawai penjual dari dalam bakala.


Susah payah saya mengucapkan 'Egg' berkali kali dan menjelaskan ke orang tersebut mengenai maksud dan tujuan saya ke bakala. Segala isyarat saya coba untuk mengungkapkan maksud saya 'beli telor dua papan' menggunakan bahasa isyarat yang rasanya sampai saat ini tangan saya masih 'kemeng' karena 'mbulet' saya putar putar dan bolak
-balik untuk membuat isyarat 'beli telor dua papan'. Akhirnya teringat apa yang dilakukan suami ketika pesan Mutton Biryani. Langsung saja saya menirukan suara ayam betina akan bertelor 'Petoook ... Petoook...!!!' sambil tangan memperagakan sesuatu keluar dari belakang . Untung si penjaga toko cukup cerdas dan ngerti yang saya maksud. Padahal, saya sudah siap-siap, kalau sampai nggak ngerti juga maka saya akan keluar dari mobil dan memperagakan cara ayam bertelor ('Angkrem'). ( http://ardisfamily.blogspot.com)

0 comments:

Posting Komentar

 
Buletin Al Husna diterbitkan oleh Forum Kajian Muslimah Kuwait - Al Husna - . Penasehat: Latifah Munawaroh,MA Penanggung jawab: Ummu Ridho, Redaktur pelaksana: Ummu Yahya, Ummu Rafi, Ummu Sumayya, Ummu Fathima Zahra, Ummu Hukma, Ukhti Fatma, Lay out: Ukhti Noor, Ummu Nizar, Keuangan: Ummu Azmi, Bagian Produksi: Ummu Abdurahman. Distributor: Ukhti Lucy (Al Husna), Mbak Diana Lestari (Khairunnisa), Ummu Ahmad (Jahra), T’Eva Amalia (Al-kautsar), Ummu Thoriq (Al Haiza) . Bagi yang ingin mendapatkan buletin ini Hubungi: Al Husna :+965 67786853 - Email : alhusnakuwait@gmail.com